Kotak Kosong Karena Siapa?


Muh Gufran Padjalai

Postingan dan kolom komentar di media sosial facebook warga Mamasa di luar maupun yang berdomisili di wilayah Kabupaten Mamasa beberapa waktu belakangan hangat dengan isu Pemilihan Bupati. Isinya mulai dari hanya sekedar membagikan gambar dan nama figur untuk dikenal hingga berbalas komentar panas menjagokan nama figur yang sudah dikenal.

Tapi argumen mejagokan figur dari kubu kontra petahana kini seolah pupus setelah tahapan pendaftaran bakal calon di Komisi Pemilihan Umum berakhir. Meski demikian, debat panas itu belum usai dan komentar-komentar tak kalah sengit kini justru datang dari pendukung "figur" kotak kosong.

Entahlah kalau dukungan ke kotak kosong itu muncul hanya sebagai bentuk pelarian kubu kontra petahana karena tidak adanya pilihan lain, tapi yang pasti kekuatan ini tidak bisa dipandang remeh. Mereka, meski secara formal tidak terkoordinir dan terdaftar dalam satu bentuk tim kampanye yang akan diberi jadwal khusus pada tahapan kampanye nanti, namun dari komentar-komentar di media sosial, mereka terus membakar semangat menang dengan pilihan kotak kosong.

Saya di sini tidak hendak memprediksi peluang kemenangan kotak kosong itu. Saya hanya ingin berbagi pertanyaan yang muncul dibenak saya sejak ribut-ribut soal pendaftaran bakal pasangan calon di Mamasa beberapa waktu lalu.

Pertanyaannya adalah: Aada "figur" kotak kosong di Mamasa karena siapa? Mengapa hanya ada satu paslon saja yang sanggup memiliki "ticket" ke Pilkada sehingga masyarakat akhirnya harus dihadapkan pada kotak kosong jika tak setuju memilih paslon yang ada?

Ini menurut saya menarik dibincangkan, karena dari sekian banyak waktu yang habis sejak soal Pemilihan Bupati Mamasa 2018 mulai disebut-sebut dan mulai memunculkan nama-nama bakal calon, hingga tiba masa para bakal calon diberi waktu oleh penyelenggara untuk mempersiapkan diri, sampai masuk masa pendaftaran ditambah perpanjangan waktu, hasilnya hanya ada 1 Pasangan calon dan kotak kosong.

Uniknya, pada tahapan pendaftaran pasangan calon, KPU Kabupaten Mamasa mencatat sejarah baru, menerima dan melayani kehadiran Bapaslon jelang tengah malam di menit terakhir perpanjangan waktu dan debat soal syarat pencalonan alot berlangsung hingga To' Pao perlahan melepas selimut kabut malam.

Sementara, di dunia maya pun di dunia nyata pasca keputusan KPU Mamasa menolak Bapaslon yang kemudian pada hari itu pulang bersama pendukungnya dengan tangan hampa di pagi buta, ajakan atau sekedar pernyataan pribadi untuk memenangkan kotak kosong terus membahana.

Jika untuk wujudnya satu bakal pasangan calon setidaknya dibutuhkan "kekuatan" individual kandidat ditambah dukungan Partai yang memiliki kursi di DPRD dan atau dukungan rakyat, maka pertanyaanya, dimana letak kurangnya sehingga satu bakal pasangan calon yang sejak awal telah mendeklarasikan diri akan maju di Pilkada bisa tidak mampu memenuhi ketentuan yang disyaratkan?

Di Pilkada Mamasa jelas, dua Partai Politik yang mendukung Bapaslon yang akhirnya ditolak KPU itu hanya memiliki 5 kursi di DPRD dari minimal 6 kursi yang disyaratkan. Katakanlah Partai Politik tidak gampang memberi dukungan dengan sejumlah pertimbangan politis yang mungkin juga akan membuat kita bertanya lagi. Dan oleh karena itu, sebelum menulis pertanyaan pada paragraf terakhir di atas, sengaja saya menulis syarat pencalonan yaitu adanya dukungan Partai Politik yang memiliki kursi di DPRD dan atau kuatnya dukungan rakyat.

Mengapa ada kalimat dan atau kuatnya dukungan rakyat? Sebab tentu kita tahu semua bahwa dukungan Partai Politik yang memiliki kursi di DPRD bisa saja diabaikan jika Bakal Pasangan Calon mampu menggalang dukungan rakyat melalui pengumpulan KTP untuk menjadi kendaraan maju melalui jalur independen. Tetapi hal itu juga ternyata pada akhirnya tidak terwujud di Mamasa.

Pertanyaan tentang persoalan politik mungkin memang tidak akan pernah habis, karena itu, sebagai penutup kata, saya sebagai orang yang hanya melihat sedikit dari luar perkembangan politik Pilkada di Mamasa berharap pertanyaan-pertanyaan ini juga juga menjadi pertanyaan saudara-saudaraku warga yang tinggal di wilayah Kabupaten Mamasa. Tentang jawabannya mari kita cari dan kita pahami sendiri-sendiri.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kotak Kosong Karena Siapa? "