DIRGANTARA INDONESIA KEMBALI


-- Pernah berjaya di tangan BJ Habibie lalu terpuruk oleh krisis ekonomi, kini P.T. Dirgantara Indonesia tengah bersiap menerbangkan N219, pesawat canggih bikinan negeri sendiri --

SATU hari di awal 2001, seorang insinyur asal Cimahi datang kepada Jusman Syafi’i Djamal. Kepada Direktur Utama PTDI itu, ia menawarkan sebuah peluang: membuat cetakan panci untuk para pembuat kue di Jawa Barat. Cetakan yang biasanya didatangkan dari Taiwan, ditawarkan PTDI dengan harga rabat 50 persen. Usul sang insinyur diterima.
Dibentuk dengan mesin-mesin dengan tingkat kecermatan tinggi, alat cetak panci buatan PTDI tentu saja bisa bersaing di Cimahi. Pekerjaan ini dilakukan oleh satu unit beranggotakan 500 karyawan terampil dan berpendidikan, yang dipimpin seorang magister lulusan Inggris. Tapi, ya, namanya saja cetakan panci, nilainya kecil. “Kontrak pertamanya saya tanda tangani sendiri. Nilainya satu juta rupiah!” kata Jusman, seorang insinyur aeronautika cemerlang yang kini jadi Komisarius Utama Garuda Indonesia.
Memang, dalam dua bulan kemudian kontrak pembuatan cetakan panci itu berkembang jadi satu miliar. Tapi malunya tak alang-kepalang. Dari Jerman, sang perintis PTDI, B.J. Habibie menelpon Jusman. “Mengapa bisa bikin panci. Ini soal citra,” kata Habibie.
Soal cetakan panci ini dikenang Jusman dengan getir sampai kini. “Ini untuk menunjukkan unit PTDI jangan malu menerima kontrak kecil,” katanya. Tapi itulah yang dihadapi PTDI saat itu: kekurangan uang. Menjadi nakhoda di industri padat modal seperti PTDI yang tengah berlayar di tengah resesi bukanlah posisi yang bisa dinikmati. “Kadang-kadang merasa kesepian sendiri. Lonely,” kata Jusman.
Bekas Dewan Mahasiwa ITB ini menapak karir di PTDI dari semua jenjang sejak masih mahasiswa tahun terakhir di Institut Teknologi Bandung tahun 1982. Keahliannya di bidang aerodinamika pesawat terbilang langka – mahasiswa Teknik Mesin Penerbangan ITB saat itu hanya lima orang -- sehingga Habibie merangkulnya dan langsung mengirimkan Jusman ke Spanyol, lalu ke Jerman dan Amerika untuk belajar langsung di industri penerbangan di sana. Kembali dari sana, Jusman ditunjuk sebagai project engineer dari N-250, pesawat produksi andalan PTDI yang kemudian tak jadi dibikin karena dihempas badai krisis. Lalu PTDI kemudian tersuruk di titik nadir, menjadi perusahaan negara pembuat pesawat yang hanya bisa membuat cetakan panci.
PTDI sepenuhnya bangkit di tahun 2012. Dari Bandung, PTDI menuntaskan produksi empat pesawat CN235 pesanan Korea Selatan, tiga pesawat CN235 pesanan TNI AL, dan 24 Helikopter Super Puma yang dipesan EUROCOPTER.
Kini, PTDI telah melewati masa-masa sulit itu.
Pada bulan Mei 2016 ini -- atau paling lambat di bulan Agustus nanti -- PTDI akan menggelar uji terbang pertama atau first flight pesawat perintis N219 buatannya. Dan jika tak ada aral melintang, tahun 2017 Indonesia akan memasuki pasar dunia sebagai produsen pesawat komersil N219.
Kepala Program N219 PTDI, Budi Sampurno, mengatakan, perusahaan itu kini tengah merampungkan berbagai proses sertifikasi komponen pesawat yang begitu banyak itu. Jika tahun 2016 ini N219 sudah mendapatkan sertifikat laik terbang, maka: “Tahun 2017 bisa diserahkan ke pelanggan,” katanya. Di pasar pesawat, N219 --yang dijual hampir seratus miliar rupiah-- akan bersaing dengan pesawat sejenisnya, Twin Otter.
Kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso, di tahun 2020 -- empat tahun lagi -- PTDI akan menjadi produsen pesawat komersial.
Rasanya masih seperti mimpi, Indonesia membangun dan menjual pesawat buatan sendiri. Dengan itu semua saya dan Anda semakin bangga sebagai Indonesia.

Penulis: Tomi Lebang

Subscribe to receive free email updates: