Ketika Laut Mamuju Bergolak


ilustrasi (net)


LELAKI tua itu menyodorkan secarik uang sepuluh ribu di ujung jemarinya yang kelihatan hitam berkeriput, tapi bocah di hadapannya langsung menjatuhkan pantatnya di atas lantai tanah sambil menendang dan menyapukan kakinya ke sana ke mari bergantian.

Debu tanah dan abu sisa kayu bakar yang berhamburan di lantai dapur berukuran 2x3 meter itu segera mengepul ke udara, berputar-putar dipermainkan angin laut yang bertiup kencang, lalu sesaat kemudian lenyap bersama asap perapian yang menyelinap ke luar melalui celah dinding bambu yang terlihat mulai lapuk.

Laki-laki itu kembali mengulurkan tangannya, namun si bocah menepisnya lagi. Ia lalu berjongkok sambil tersenyum sabar. Ia terus berusaha membujuk, tapi bocah laki-laki yang dihadapinya itu tetap kukuh. Ia menolak berdiri karena permintaanya tidak dipenuhi.

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Ia berdiri lalu berjalan meraih kemeja lusuh yang tergantung di dinding tengah rumahnya. Sesaat kemudian ia sudah terlihat berjalan di bawah terik matahari menyusuri jalan di antara petak-petak tambak.

Kali ini ia kembali harus melakukannya sendiri. Ia harus pergi sendiri mencari warung di mana sebungkus rokok termurah bisa ia peroleh. Bocah laki-laki yang tak lain adalah cucunya, tidak mau beranjak karena tahu tidak ada sisa uang untuk gula-gula kesukaannya. Sementara sejak pagi, si lelaki tua belum mengisap rokok barang sebatangpun.

Laki-laki tua itu bernama Nurdin. Usianya sudah mendekati 70 tahun. Ia seorang nelayan tradisional yang tinggal di sebuah perkampungan kecil dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berjauhan di antara pohon-pohon kelapa di pesisir pantai Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju.

Pekerjaan satu-satunya yang ia geluti selama ini adalah berangkat ke laut setiap hari dengan perahu lepa-lepa untuk menangkap ikan menggunakan jaring yang ia pintal sendiri. Kadang-kadang ia juga menggunakan kail.

Namun sejak beberapa hari terakhir, Ia tidak bisa berangkat mencari ikan di laut. Hal itu terjadi sejak kondisi cuaca di perairan laut Mamuju kembali memburuk dan gelombang laut di sepanjang pesisir pantai tempatnya biasa mencari ikan, setiap hari bergemuruh, mengamuk.

Nurdin mengatakan, kondisi cuaca seperti itu merupakan siklus tahunan. Terjadi setiap akhir Januari sampai pertengahan bulan Maret. Tapi kadang-kadang bisa terjadi di luar perkiraan. Sering waktunya berlangsung lebih lama dan ombak serta anginnya lebih kencang. Dan kini hingga kira-kira sampai satu bulan lebih ke depan, Nurdin terpaksa harus menghabiskan banyak waktunya berdiam di rumah bersama anak dan cucu-cucunya.

"Tidak bisa ki ke laut kalau begini lagi keadaan. Besar ombak. Ini biasanya berlangsung sampai bulan tiga," kata Nurdin di rumahnya, Minggu (31/1) siang.

Di waktu-waktu seperti itu kata Nurdin, nelayan tradisional seperti dirinya yang hanya mengandalkan sumber pendapatan dari melaut, sama sekali tidak mendapatkan penghasilan apapun untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarga setiap hari. Karena itu, ia harus pandai-pandai mengatur pengeluaran dengan mengirit belanja harian.

"Nelayan di sini yang punya lahan sawah atau kebun, waktu-waktu begini bisa kembali tanam sayuran dan tanaman jangka pendek yang lain. Tapi kalau seperti saya yang sudah tidak punya, hanya bisa di rumah saja," ujar Nurdin.

Nurdin menjelaskan, sebenarnya tidak semua nalayan harus istirahat total tidak bisa melaut seperti dirinya saat ini. Sebab, sekalipun cuaca sedang tidak mendukung untuk aktivitas mencari ikan karena gelombang laut di Mamuju setiap hari mengamuk, tapi menurutnya, jika nelayan bisa bergerak agak jauh ke tengah, nelayan tetap akan bisa menagkap ikan. Katanya, agak jauh dari pantai, gelombang laut biasanya sedikit lebih tenang.

Namun persoalannya kata Nurdin, untuk bisa melaut agak ke tengah di sekitar perairan tempatnya biasa menagkap ikan, dibutuhkan peralatan tambahan. Sementara nelayan seperti dirinya, hanya bisa mengandalkan peralatan yang seadanya saja.

"Biasanya di bagian pinggir itu ombak memang kencang sekali. Tapi kalau sudah agak ke tengah tidak terlalu terasa, tapi perahu kecil seperti yang saya punya jelas tidak bisa," kata Nurdin.

Nurdin bercerita, kadang-kadang satu hari, ombak agak tenang. Kalau sudah begitu, nelayan bisa memanfaatkan kesempatan pergi melaut. Tapi kesempatan itu bukan tanpa resiko. Karena itu katanya, seorang nelayan harus pandai melihat dan menafsirkan tanda-tanda perubahan cuaca.

"Kalau sudah ada tanda-tanda, harus buru-bura pulang. Sering sementara di laut, ombak besar tiba-tiba datang," ujar Nurdin. Dan jika terlambat sedikit saja lanjutnya, akan sangat merugikan bahkan bisa berakibat fatal bagi nelayan.

Bagaimana tidak, jika ombak sudah menerjang pesisir pantai, jaring yang sudah ditebar kata Nurdin, bukannya akan menjerat banyak ikan, yang ada justru akan rusak karena terseret ombak ke pantai bersama ranting-ranting dan segala rupa jenis sampah.

"Perahu kita juga bisa terbalik disapu ombak," katanya.

Dukungan dermaga pelabuhan juga sangat membantu para nelayan pada saat kondisi cuaca buruk seperti saat ini, kata Nurdin. Namun karena di sekitar perairan tempat tinggalanya tidak tersedia dermaga pelabuhan, maka para nelayan di Desanya, hanya bisa berangkat ke laut, jika kondisi perairan benar-benar sedang teduh.

"Makanya sekarang ikan agak mahal. Karena tidak semua nelayan bisa ke laut. Nelayan di Bakengkeng mungkin bisa karena ada pelabuhan. Tapi di sini tidak bisa. Mudah-mudahan tidak terlalu lama ombak tinggi begini," ujar Nurdin penuh harap. (gufran)

Subscribe to receive free email updates: