PAMALI, Antara Kemampuan Akal dan Akidah yang Harus Diluruskan



PAMALI adalah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Hampr di seluruh wilayah nusantara ini terdapat kata pamali dengan versi daerah masing-masing. Penulis memahmi bahwa pamali adalah istilah yang mewakili sebuah ketentuan berdasarkan tradisi turun-temurun yang mengatur suatu tindakan tertentu yang tidak boleh dilakukan pada keadaan-keadaan atau waktu tertentu. Tradisi ini sudah lama berlaku sejak nenek moyang zaman kuno sampai saat ini sebagian orang masih mempercayainya.

Berbicara tentang pamali ini, sedikit mengusik hati saya, karena bagi saya ada yang sedikit masuk akal bila diukur dengan logika namun ada juga yang betul-betul hanya mengada-ada. 

Menurut osebagian orang, pamali itu ada hanya karen orang-orang tua kita dahulu belum mampu menjabarkan secara logis hal-hal yang berpengaruh dalam aktivitas mereka sehari-hari. Atau bisa jadi hanya sebuah larangan semata agar anak-anak mereka tidak melakukannya lagi untuk menghindari bahaya yang akan terjadi dikemudian hari. 


Pamali ini juga sudah menjadi semacam pesan berantai yang turun temurun di mana sebagian masyarakat masih sangat mempercayainya. Contoh yang saya angkat dalam tulisan ini semisal dalam pernikahan. Salah satu yang dianggap pamali adalah pelaksanaan pernikahan kembar atau upacara pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama. 

Di masyarakat kita, berkembang pamali melakukan pernikahan dua orang anak secara bersamaan. Bisa dilakukan akan tetapi tidak bisa melakukan akad nikah di rumah yang sama harus terpisah dan bahkan kedua pasangan tidak disandingkan bersama-sama di pelaminan.

Sebagian ada yang sudah disandikan pada saat pesta pernikahan namun ada juga yang tidak sama sekali dilakukan, hal ini katanya karena dipercayai bahwa salah satu pasangan mempelai kelak rumah tangganya akan mengalami semacam kesialan. 

Tentang ini, ada teman saya yang alami sendiri. Dahulu dia katanya secara bersamaan menikah dengan adik perempuannya. Teman saya ini hanya menjalani pernikahnnya selama kurang lebih dua tahun karena istrinya sakit dan kemudian meninggal.

Bisa jadi mungkin itulah takdir bahwa umur manusia itu sudah ada yang tentukan. Buaknkah kita tau bahwa tak ada yang kebetulan, hal inipun terjadi dengan menantu salah seorang teman saya. Menantunya pun meninggal dunia hanya beberapa saat setelah pernikahannya. Bagi saya mungkin ini sebagian dari rahasia dari Tuhan untuk hambanya untuk berfikir. 

Saya pernah mendengar seorang ustadz saat teman saya akan melangsungkan pernikahan. Teman saya ini pun akan menikah bersamaan dengan adiknya dan diapun terpaksa harus melangsungkan akad nikah di rumah calon suaminya bukan dirumahnya katanya, lagi-lagi pamali.

Kata ustadz, ini dalam Islam tidak dilarang orang tua menikahkan anaknya secara bersamaan dua atau tiga pasangan. Namun kalau bisa hal ini dihindari. Karena apa? 

Kata Ustadz, pernikahan semacam ini dikhawatirakan menimbulkan fitnah dari para tamu yang diundang bisa jadi tamu yang hadir akan membandingkan kedua pasangan yang bersanding ini, jadialh fitnah dan gosip yang menyakitkan dan tentu saja dosa.

Kembali kepokok bahasan tentang pamali ini, begitu banyak pamali yang berkembang di masyarakat. Saya sendiri bisa dikatakan mengalamim kontroversi hati he..he..he tentang pamali ini.  

Tapi ada juga pamali yang sedikit masuk akal bagi saya misalnya jangan tidur tengkurap karena pamali. Orang-orang tua kita tidak menjelaskan alasan pastinya tapi bisa diketahui bersama, bahwa ajaran agama kita ketahui menyebutkan, tidur yang seperti itu adalah tidurnya setan di dalam neraka.

Sebagai ummat manusia mungkin kita harus meluruskan aqidah yang telah disyariatkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dikatakan bahwa tidak ada di antara kita melainkan terhinggap perasaan pesimis karena sesuatu atau merasa bernasib sial karena mendengar atau melihat sesuatu.

Karena inilah, Nabi  Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan solusi untuk penyakit keyakinan yang keliru ini, maka jika ada perasaan seperti ini, disebutkan bahwa kita harus: 

PERTAMA, melawan perasaan tersebut dengan melaksanakan apa yang sudah direncanakan lalu bersandar diri kepada Allah Ta’ala. Perhatikan beberapa hadits berikut:

“Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan TAWAKKAL” (HR. Abu Daud: 3411).

Hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan bahwa perasaan bernasib sial akan hilang dengan bersandar diri kepada Allah (tawakkal) sebab;
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taghaabun: 11)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid: 22).

“Tidak ada ‘Adwa (keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya bukan karena takdir Allah), tidak ada thiyarah (firasat sial akan mendapat sesuatu yang ditemuinya karena melihat hewan, seperti burung gagak yang lewat menandakan bahwa akan ada orang yang meninggal) dan tidak ada juga ghul (keyakinan orang Jahiliyyah bahwa ada hantu yang menakutkan yang bisa menyesatkan jalan) “. (HR. Ahmad: 13603).

“Barangsiapa tidak melanjutkan aktivitas kebutuhannya karena thiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad: 6748).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang tidak jadi melakukan aktivitasnya gara-gara merasa akan kualat, pesimis, pamali maka sungguh dia telah berbuat syirik.

KEDUA, menumbuhkan perasaan optimis dan prasangka baik di dalam diri, di antaranya dengan mengucapkan perkataan yang baik-baik jauh dari pesimisme.
“Tidak ada thiyarah (menganggap sial pada sesuatu sehingga tidak jadi beramal) dan yang baik adalah Alfa`lu.” Para sahabat bertanya; “wahai Rasulullah apakah Al fa`lu itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kalimat baik yang di dengar oleh salah satu dari kalian.” (HR.Bukhari: 5313).

KETIGA, salah satu penyebab masuk surga tanpa hisab, tanpa disidang di hari penghakiman adalah dengan tidak ber-thiyarah, dan kuncinya adalah tawakkal!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada tujuh puluh ribu orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab, yaitu yang tidak meminta dirukyah (pengobatan dengan jampi-jampi, atau mantera), tidak berfirasat sial karena melihat burung dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal. (HR. Bukhari: 5991).

KEEMPAT, berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni doa memohon perlindungan dari sikap Thiyarah.
“Barangsiapa tidak melanjutkan aktivitas kebutuhannya karena thiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung—atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.”

Para sahabat bertanya; “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “hendaklah ia berdoa; "ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA"

“Ya Allah, tidak ada kesialan selain dengan ketentuan-Mu dan tidak ada kebaikan selain kebaikan-Mu, dan tiada sesembahan yang berhak disembah selain-Mu.” (HR. Ahmad: 6748).

Semoga tulisan ini bermanfaat, wallahu’aalam...

Penulis: Niar Asny

Subscribe to receive free email updates: