Tentang Pemimpin yang Baik

Seorang pemimpin harus bisa menghirup aroma asli masyarakat dan dengan jujur menyimpulkan apa yang sesungguhnya harus dilakukan untuk rakyatnya.

Seorang pemimpin tak harus malu dan takut dikatakan terbelakang jika ia mengerem pembangunan mal dan gedung-gedung modern, lalu melakukan banyak hal bagi budaya.

Ada banyak pemimpin yang lebih membanggakan apa yang masih bisa mereka pertahankan, daripada apa yang berhasil mereka bangun.

Namun, tak sedikit pula pemimpin yang begitu asyik mengumandangkan berapa jumlah gedung tinggi yang berhasil mereka bangun, sementara identitas daerah sudah aus tak berjejak.

Bila budaya adalah nyawa dan poros kehidupan penduduk sebuah daerah, mengapa mereka harus diperkenalkan dengan kehidupan baru yang belum tentu cocok bagi mereka?

Bicara sejahtera, kita bukan hanya mengukur dari seberapa banyak gedung tinggi yang menggapai-gapai langit di dalam sebuah pusat pemukiman yang disebut kota.

Kita juga tidak menghitung jumlah pusat-pusat belanja modern tempat orang-orang berpunya menumpahkan uang mereka.

Kita juga tidak bicara soal berapa dekat sebuah daerah dengan modernitas yang mengacu pada kemajuan khas negara-negara barat.

Sejahtera adalah bila segenap penduduk merasakan kehidupan yang tenang dan menemukan perasaan cerah untuk melewati hari. Itu artinya, orang-orang dari berbagai kelas harus merasakan sentuhan kasih dan merasa terlindungi.

Seorang pemimpin tidak mungkin hanya menjawab keinginan masyarakat kelas atas yang membutuhkan pusat-pusat belanja mahal dan gedung-gedung modern, sementara lebih dari separuh penduduk tersudut dalam keterbatasan ekonomi.

Pemimpin juga tidak boleh anti pada investasi, sebab membangun adalah pertanda bahwa sebuah daerah menggeliat hidup.

Subscribe to receive free email updates: