Tentang Pemandangan Indah dan Serial India

"Kenapa kita suruh dia pindah. Kita kasi pinda pemandangan indah dari dekat ta ceh..," kata pemuda, petugas di SPBU kepada sopir truk yang baru tiba.

"Saya tidak suruh pindah. Tapi saya bisa masuk kalau dia pindah. Kalau dia tidak pindah saya tidak bisa masuk," kata si sopir.

Gadis yang duduk di atas motor itu hanya nyengir lalu turun dan menggeser motornya ke belakang kursi tempat saya duduk. Hujan belum reda. Gadis itu kembali duduk.

"Dekat ji tempatku, tapi deh.. kombos ka pasti kalau sampai ke sana," kata si Gadis kepada si Pemuda yang dari tadi terus mengajaknya bicara.

Mungkin bagi si Pemuda, kehadiran gadis yang duduk di atas motor itu di dekatnya, dapat menghadirkan hiburan tersendiri setelah dari pagi bekerja di antara siliweran kendaraan yang keluar masuk di tempatnya bekerja.

Dan kehadiran gadis yang berteduh dari deras hujan di tempatnya, membuatnya senang dengan apa yang bisa ia pandang. Ia menyebutnya pemandangan indah. Dan mungkin ia berdo'a agar hujan turun lebih lama .

Tapi saya yang duduk sejak hujan mulai turun, telah diserang kantuk. Saya lalu berdiri dan beranjak dari kursi plastik tanpa sandaran yang tadi saya pinjam dari si Pemuda. Hujan mulai terlihat menipis. Sepeda motor saya nyalakan dan saya pergi berlalu meninggalkan si Pemuda dengan pemandangan indahnya.

Hanya beberap menit saya memacu kendaraan, hujan kembali seperti tumpah dari langit. Spontan saya berbelok ke halaman sebuah warung makan di sisi jalan untuk berlindung.

Saya masuk dan menarik sebuah kursi plastik kemudian duduk menghadap ke pojok ruangan. Jaket yang telah sdikit basah saya bentangkan di kursi yang lain di dekat saya.

Tak jauh dari tempat saya duduk, sepasang suami-istri dengan anaknya tampak baru saja menyelesaikan makannannya.

Suami istri? Sesungguhnya itu hanya dugaan saya. Sebab seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan anak kecil yang sesekali pindah tempat duduk, juga beberapa barang bawaan dan tas khas perempuan serta helm dan jaket milik laki-laki yang ada di meja, setahu saya merupakan ciri-ciri pasangan suami istri yang sedang dalam perjalanan.

Jadi meski saya tidak tanya, dan saya tidak lihat mereka tinggal serumah, tapi kuat dugaan saya mereka adalah suami istri karena ciri-ciri yang saya lihat itu. Dan serumah bahkan sekamar, kata seorang teman, tak cukup untuk seorang laki-laki dan perempuan dapat disebut pasangan suami-istri.

Pernah di sebuah penginapan, seorang teman mau taruhan, kalau laki-laki dan perempuan yang kami lihat keluar dari kamar adalah pasangan suami-istri. Ketika itu kami melihat seorang laki-laki dan perempuan keluar kamar dan pergi meninggalkan penginapan.

Kembali ke warung makan. Sang istri, saya lihat duduk merunduk menghadap ke sandaran kursi dan matanya terpejam. Tampaknya ia juga mengalami hal yang barusan saya rsakan di SPBU. Diserang kantuk.

Meski awalnya tidak ada niat singgah dan makan di tempat itu, tapi saya merasa karena ini tempat makan, bukan tempat singgah untuk berteduh tidak enak rasanya hanya duduk. Saya akhirnya minta kepada Si Mas pemilik warung agar disipakan seporsi nasi dengan lauk-pauknya. Kebetulan memang belum makan siang.

Sambil menunggu makanan pesanan saya disiapkan, saya mengalihkan perhatian dengan pura-pura buka HP meski tidak ada pesan yang masuk. Lalu samar-samar saya dengar suara TV. Saya menoleh ke kiri, rupanya si Mas pemilik warung baru saja meyalakan sebuah pesawat TV ukuran mini yang terpasang di dinding.
Di layar tampak siaran berita. Lalu pindah dan pindah. Terkahir muncul sebuah tanyangan Serial India, dan berhenti di situ.

Rupanya si Mas mau menghibur kami khususnya saya yang baru masuk dengan tontonan tersebut. Sesaat saya perhatikan. Tayangan yang tampaknya sedang di gandrungi para pemirsa.

Pemainnya berpakaian seperti pengantin. Kadang-kadang ada adegan mandi bunga dan lain-lain.
Tentu tayangan itu digandrungi hanya sekedar hiburan. Sebab jika selama ini sebuah tayangan TV sering mempengaruhi cara berpakaian kita, tapi apa mungkin gaya hidup dan cara berpakain seperti di serial India itu bisa ditiru?

Dan saya yang selalu lebih senang pada kehidupan alam, merasa akan lebih terhibur jika di TV ada tayangan petualangan ke hutan-hutan dan alam bebas atau tanyangan tentang bagaimana kehidupan di sebuah areal pertanian.

Si Mas gagal menghibur saya tentu saja. Tapi makanan yang dia hidangkan saya lahap tanpa sisa. Terima kasih mas, hujan sudah reda. Suami-istri dan anaknya itu telah pergi, saya pun berdiri, membayar makanan si Mas dan segera pulang ke rumah.

Subscribe to receive free email updates: