Tentang Ingin Tampil Mewah

Sebuah stasiun televisi swasta yang menyajikan sebuah berita tentang mobil-mobil mewah hasil sitaan KPK. Mobil-mobil mewah yang diberitakan tersebut tampaknya sengaja dipajang oleh KPK dihalaman kantornya. Yang unik dan menarik perhatian saya dan tentu saja menarik perhatian si reporter TV yang melaporkan berita tersebut karena kehadiran mobil-mobil mewah yang dipajang itu menjadi semacam sajian dan tontonan tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke kantor KPK. Bahkan tidak sedikit dari para pengunjung yang mengambil kesempatan berfoto dengan menjadikan mobil-mobil mewah tersebut sebagai latar belakang pengambilan gambar.

Tak baik berprasangka buruk dengan mengatakan bahwa dengan foto itu para pengunjung telah merasa bangga meski hanya berada di dekat mobil mewah yang jelas-jalas bukan miliknya. Apa yang dapat dibanggakan dengan memajang foto berlatar mobil mewah milik koruptor? Jangankan mereka para pengunjung itu, si pemilik pun mungkin saat ini justru sudah menyesal telah ditangkap KPK karena mengambil uang dan harta yang bukan haknya. 

Tentang hal ini marilah berprasangka baik. Mungkin tujuan mereka berfoto hanya memanfaatkan kesempatan saja atau sekedar melepas kejengkelan kepada para koruptor yang selama ini selalu menjaga jarak dengan rakyat kecil. Menjaga jarak dirinya yang wangi dan mobilnya yang mewah dengan rakyat kecil yang kadang nyaris diserempetnya di tengah jalan saat bergelut dengan debu mengais sesuap nasi dengan hanya mengandalkan dua tangan dan kaki atau bahkan ada yang buntung. 

Barangkali foto tersebut hanya akan dijadikan semacam bukti oleh sipemilik foto itu, bahwa dia benar-benar berada ditempat tersebut, berdiri di depan atau di samping mobil itu dalam jarak yang sangat dekat dan menyaksikan langsung betapa mewahnya mobil-mobil milik para koruptor tersebut. Para koruptor yang terpaksa kini harus meninggalkan hidup mewahnya di rumah-rumah mewah yang juga telah disita KPK karena dijebloskan ke balik tahanan yang dingin dan sempit. 

Tapi tentang koruptor yang terpaksa meninggalkan hidup mewah setelah ditahan, dari beberapa kasus yang sempat mencuat, tak sedikit juga diantara mereka yang sudah dibuih, namun masih bisa menikmati kemewahan di dalam kamar tahanan dengan memanfaatkan mental rusak para pegawai Lapas dengan menyogok mereka dengan segepok uang.

Mungkin para pegawai Lapas tersebut terlalu bernafsu melihat uang atau merasa kurang mewah dengan gaji dan fasilitas yang diberikan negara. Entahlah. Tetapi tentang nafsu dan keinginan bermewah-mewah ini, semua jenis manusia dan juga binatang, memiliki keinginan bermewah-mewah dan nafsu yang selalu ingin dipuaskan. Tentang ini, hanya rasa malu yang membedakan manusia dengan binang didalam memuaskan keinginannya.

Bahkan karena dorongan keinginan dan mental rakus pada kehidupan bermewah-mewah yang tidak terkendali, tidak sedikit manusia yang kemudian kehilangan rasa malu, lalu melakukan cara-cara yang tidak benar untuk mendapatkan harta dengan memanfaatkan segala kesempatan. Dari sinilah awal korupsi menjalar dan merajalela dikalangan pejabat atau siapapun yang memiliki kesempatan.      
Tidak perduli halal-haram, demi memuaskan keinginan dimanfaatkanlah setiap kesempatan, bahkan terkadang memaksakan keadaan didalam mengeruk kekayaan. Begitulah jika bermewah-mewah dan gila seta rakus pada harta sudah menjalar sedemikian kuat dalam aliran darah dan otak manusia. Hal ini diperparah oleh rusaknya mental kebanyakan manusia yang hanya mengukur status dan derajat kemanusiaan dari gaya dan penampilan serta harta dan fasilitas yang digunakan.

Tentang mengukur orang dari penampilan dan apa yang dimiliki, saya teringat dengan sebuah cerita nyata tentang seorang menantu yang tinggal di tempat yang berbeda dengan kedua orang tua istrinya. Ini kisah benar-benar nyata tetapi tak pantas tentunya menyebut nama dan tempatnya. Entah apa yang melatar belakangi, tetapi yang terjadi kemudian adalah si mantu datang ke tempat mertuanya bersama istri dan anaknya dengan menggunakan sebuah mobil yang sebenarnya bukan mobil mewah. 

Alangkah gembiranya si mertua, melonjak-lonjak dan melakukan banyak hal untuk meluapkan kegembiraannya karena ternyata si mantu punya mobil. Tak lupa pula bercerita kepada orang sekampung tentang menantunya yang punya bobil. Orang-orang yang kemudian datang bertandang kerumah si mertua menjaga jarak dengan si menantu, merasa tak sanggup duduk berdekat dengan orang kaya. Dalam cerita ini yang merasa serba salah adalah sopir mobil rental yang dibayar si menantu untuk mengantar dia dan istrinya ke rumah mertua. 

Sesuai perjanjian, keesokan harinya si sopir harus pulang dengan mobil milik bosnya tapi karena merasa tidak enak dan ditambah bayaran dari si menantu, Terpaksalah ia harus tinggal beberapa hari lagi menunggu kepulangan si menantu yang juga terpaksa harus cepat pulang.

Subscribe to receive free email updates: