Mengapa Memilih Profesi Wartawan?

MENGAPA memilih profesi jadi jurnalis atau wartawan? Pertanyaan ini tidak hanya harus dijawab oleh peserta kelas pelatihan jurnalistik atau mahasiswa komunikasi yang bercita-cita ingin menekuni profesi wartawan. Pertanyaan ini, juga harus kembali ditanyakan kepada diri masing-masing mereka yang mengaku telah berprofesi sebagai wartawan yang mungkin telah dibuktikan dengan sederet prestasi.

Mengapa pertanyaan ini harus dijawab? Adalah untuk meluruskan niat. Sebab boleh jadi, seseorang yang telah memilih menjalankan profesi wartawan, ternyata berangkat dari niat yang salah. Atau bahkan telah salah karena mengambil keputusan, memilih profesi jadi wartawan.

Dan niat tersebut akan terlihat dengan menjawab pertanyaan yang disampaikan di bagian awal tulisan ini, yaitu; Mengapa memlilih profesi jadi wartawan?

Dan jika jawabannya masih berkisar pada hal-hal yang berbau materialistik apa lagi karena merasa tidak akan makan kalau tidak keluyuran mencari berita. Atau tidak ada pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup atau terpaksa karena tidak ada peluang di bidang lain. Maka jawaban itu jelas keliru. Sebab faktanya sangat banyak pekerjaan lain yang akan membuat siapapun tetap bisa makan bahkan kaya-raya di luar pekerjaan jadi wartawan.

Atau jika seorang wartawan sering mengatakan kepada orang lain yang berprofesi di luar profesi wartawan; pekerjaan anda lebih enak karena tidak harus kesana-kemari keluyuran dan kepanasan bahkan kadang penuh bahaya dalam mencari berita untuk tetap bisa hidup. 

Atau mungkin menjawab; memilih jadi wartawan hanya sekedar mencari penghasilan tambahan dan lain-lain. Maka sebaiknya yang berkata dan menjawab seperti itu, berhenti saja jadi wartawan. Sebab sulit diharapkan yang menjawab seperti itu akan menjadi jurnalis atau wartawan yang idealis dan sekaligus profesional.

Dan sebagai seorang yang saat ini masih aktif membuat berita untuk dimuat di media, saya tentu juga harus menjawab pertanyaan tersebut. 

Baiklah. Tapi sebelumnya saya akan memberikan gambaran; sebagai pencari dan pembuat berita, sehari-hari saya tentu bertemu dengan banyak rekan-rekan seprofesi. Dan perbincangan kami sedikit banyak pernah menyinggung pilihan profesi wartawan.

Bersama rekan-rekan, saya banyak memetik pelajaran dan inspirasi dari kisah-kisah perjalanan hidup mereka dalam menjalani pilihan hidupnya berprofesi sebagi wartawan.

Kisah-kisa inspiratif tersebut, banyak yang semakin memupuk komitment kami khususnya saya dalam memilih jalan hidup menjalankan profesi wartawan. Namun tak sedikit pula dari kisah-kisah yang ada, justru mengungkap kenyataan lain yang saya simpulkan; masih banyak yang harus dibenahi. Pada wartawannya, dan pada manajement perusahaan medianya.

Kami cinta profesi ini. Bukan karena tidak ada pekerjaan lain dan bukan karena tidak memiliki peluang memilih pekejaan lain. Dan telah banyak yang membuktikannya; banyak rekan yang berpfofesi wartawan, pernah ditawari pekerjaan menggiurkan di bidang lain. Tetapi mereka tetap bertahan setia kepada profesinya sebagai wartawan.

Satu alasannya; Idealisme. Itulah kata kunci yang menguatkan niat dan harus dipegang kuat oleh seseorang dalam pilihannya menjalankan profesi wartawan. Dan karena wartawan adalah profesi, maka tentu idealisme tersebut juga harus dibarengi profesionalitas seorang wartawan. Dan idealisme tetap harus jadi ruh dan semangat seorang wartawan dalam menjalankan profesinya.

Idealisme dan profesionalisme ini penting untuk menegakkan harkat dan martabat pers yang di dalamnya ada wartawan yang dituntut bekerja penuh tanggung jawab dan tidak untuk sekedar gagah-gagahan semata.

Idealisme dan profesionalisme memang tidak mudah. Karena harus diakui masih banyak yang memandang sinis terhadap profesi wartawan. Kondisi tersebut tak lepas dari akibat perilaku menyimpang dari tidak sedikit yang berprofesi wartawan itu sendiri.

Terungkap misalnya, ada cerita tentang bagaimana wartawan menyalahgunakan profesinya; memeras, mengancam, membuat berita bohong, dan berbagai bentuk delik pers lain yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang bersangkutan.

Padahal pilihan profesi menjadi wartawan seharusnya menjadi pilihan sadar bagi siapa saja yang bergelut dalam bidang ini. Dan pilihan sadar hanya akan lahir dari seseorang jika mengetahui kelebihan, keuntungan, dan peluang menjadi wartawan.

Seorang wartawan juga harus paham tentang konsekuensi, tantangan, dan hambatan yang bakal dihadapi. Keuntungan, kelebihan dan peluang bagi seorang wartawan misalnya; bisa ikut mengembangkan kebebasan, demokrasi, membela masyarakat kecil, dan peningkatan kemanusiaan sesuai dengan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan sebagainya.

Dengan pengetahuan tersebut, maka pilihan breprofesi sebagai wartawan adalah sebuah pilihan hidup yang harus dijalani dengan idealisme dan bukan sekedar pekerjaan yang berorientasi hanya untuk mencari uang semata. Sebab itu jika ditanya; Mengapa memilih profesi jadi wartawan? Jawabannya; Idealisme!

Subscribe to receive free email updates: