Kuatkan Silaturrahmi

Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang pentingnya bersilaturrahmi. Saya akan bercerita tentang seorang kawan yang katanya seumur hidup baru pertama kali bertemu dengan bibinya, yaitu saudara perempuan bapaknya.
Pertemuan tersebut terjadi melalui perantaraan teman kawan kita ini, yang telah lebih dahulu mengenal dan bertemu serta mengetahui perihal keberadaan sang bibi.
Teman kawan kita ini tahu jika perempuan yang ia kenal tersebut adalah bibi dari kawan kita. Ia kemudian memberi tahu kawan kita dan menganjurkan agar pergi menemui sang bibi.
Singkat cerita, akhirnya berangkatlah kawan kita mencari rumah bibinya dan bertemulah ia dengan adik kandung bapakanya tersebut.
Tapi hanya bertemu sekali hingga beberapa waktu kemudian kawan kita ini mengajak saya untuk kembali bertemu dengan bibinya. Lalu berangkatlah kami ke rumah sang bibi. Sesungguhnya saya pun masih memiliki hubungan kerabat dengan perempuan yang telah lama meninggalkan kampung halamannya tersebut.
Siang jelang sore, tibalah kami di rumah yang dituju. Obrolan demi obrolan kemudian kami lewati dengan orang rumah. Sang bibi ditemani suami dan salah seorang anaknya.
Hingga akhirnya sang bibi lebih serius berbicara dan memperkenalkan kami kepada anak-anaknya termasuk bagaimana hubungan kekerabatan kami dengan mereka.
Sang bibi sepertinya menyadari bahwa sekalipun anaknya telah mengobrol dan terlihat akrab dengan kami, akan tetapi ia tahu bahwa anaknya belum mengenal siapa kami dan belum tahu seberapa dekat hubungan persuadaraan yang ada.
Dengan nada tegas namun masih dalam suasana obrolan penuh canda tawa, ia menekankan kepada anaknya yang seorang laki-laki muda dan telah pula berumah tangga, akan pentingya mengenal sanak saudara.
Karena melihat suasana sedikit serius membahas seluk beluk pertalian darah, saya iseng angkat suara dan berkata kepada sanga bibi bahwa sebenarnya bukan salah anak jika tak mengenal sanak saudaranya.
Sebab orang tualah yang seharusnya dari awal memberi tahu dan memperkenalkan anak-anaknya kepada sanak sudaranya melalui saling mengunjungi dan bersilaturrahmi.
Sang bibi tampak terkejut dengan kata-kata saya. Namun ia tidak terlihat menunjukkan wajah tersinggung apa lagi marah. Sebab obrolan kami tetap dalam suasana canda namun serius.
Dan ia membenarkan ucapan saya. Kata sang bibi, keadaan hidup dengan kondisi yang serba sulit di masa-masa yang lalulah yang telah membatasi antara sesama sanak saudara untuk saling bertemu.
Namun dengan fasilitas transportasi dan akses komunikas yang demikian dekat dan cepat saat ini, katanya tidak ada alasan untuk tidak saling bersilaturrahmi.
Jadilah obrolan kami semakin hangat. Tidak terasa matahari sudah memerah di ufuk barat. Hari itu kami pamit meninggalkan rumah bibi dengan perasaan senang telah bertemu dan berbagi cerita dengan kerabat yang lama tidak bertemu.

Subscribe to receive free email updates: