Benarkah Tak Sekolah Karena Enak Cari Uang?

Suatu hari saya bertandang ke sebuah bangunan rumah yang letaknya agak tinggi di atas bukit di pinggiran kota Mamuju. Untuk menjangkau bangunan itu, jalan beton yang mulai retak-retak sepanjang kira-kira 50 meter dengan medan menanjak harus dilalui. Itu satu-satunya akses jalan ke sana. Katanya mobil dan motor bisa naik, tapi saya memilih jalan kaki saja.

Tak sampai 5 menit saya sudah berdiri di teras rumah itu dengan napas naik-turun. Setelah mengucap salam, dari dalam rumah keluar seorang pria menemui saya. Darinya segera saya tahu jika orang yang saya cari belum berada di tempat.

Tapi ia mengatakan, jika saya mau ketemu yang lain, bisa ia panggilkan. Saya iyakan saja dan ia segera menghilang ke dalam rumah.

Seorang laki-laki kemudian keluar dan mengajak saya duduk di kursi tamu. Dari perkenalan pertama kami, segera saya tahu bahwa orang ini sama saja dengan orang yang sebelumnya saya tanyakan. Saya merasa keinginan saya dengan datang ke tempat ini juga akan terpenuhi dari orang ini.

Bangunan yang saya datangi ini sejatinya adalah sebuah rumah. Letaknya agak terpencil dan agak susah dijangkau. Dugaan saya, rumah ini mungkin tidak lagi ditinggali pemiliknya, karena itu disewakan dan disulap jadi Kantor oleh para Fasilitator Pelayanan Sosial Dasar (PSD) Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) Provinsi Sulawesi Barat.

Saya lalu mulai membuka pembicaraan dengan lelaki tersebut. Nama lelaki itu tidak usah saya sebutkan disini. Yang mau tahu silahkan cari dan kenalan sendiri.

Pembicaraan kami tentu tidak jauh dari soal pendidikan dan kesehatan berikut masalah-masalah yang dihadapi dalam dua bidang ini, termasuk soal anak putus sekolah.

Ia mengatakan, putus sekolah bukan hanya disebabkan faktor mahalnya biaya pendidikan yang bagi kalangan masyarakat ekonomi lemah, sulit untuk dijangkau.

"Sebab ternyata, bantuan telah diberikan, seragam juga kita siapkan, hasilnya ada, tapi angka putus sekolah ternyata juga tidak mengalami penurunan yang berarti," katanya.

Meski memang masalah biaya menjadi salah satu faktor penyebab putus sekolah, tapi ia mengatakan, ada hal lain yang mempengaruhi. Dan hal itu mesti dicarikan solusi.

"Kadang-kadang dari segi ekonomi, orang tuanya mampu tapi memang anaknya yang tidak mau sekolah," katanya lagi.

Ia juga mengatakan, mungkin dari segi ekonomi memang tidak mampu, tapi ada juga anak yang lebih senang bekerja cari uang seperti ikut jadi nelayan cari ikan karena merasa enak langsung bisa dapat uang.

"Jadi kalaupun dikembalikan ke sekolah, lama-lama akan keluar lagi. Di sekolah rupanya mereka tidak betah," katanya.

Kami kemudian larut dalam perbincangan. Kadang-kadang isi pembicaraan kami keluar dari soal putus sekolah di atas sampai merembet ke soal politik juga.

Saya bilang, kondisi saat ini tampaknya memang lebih enak kalau sudah ada hubungannya dengan uang. Dan ini katanya, terkait dengan pola pikir masyarakat. Sementara menuntut ilmu di sekolah sekian tahun hasilnya tidak kelihatan kecuali ijazah yang kadang-kadang juga tidak bisa diandalkan untuk bisa tetap hidup.

Makanya kata saya, masalah uang ini juga terjadi dalam dunia politik. Dalam Pilkada atau memilih pemimpin, lanjut saya, orang tampaknya lebih banyak didorong oleh uang. Sebab sangat nyata kelihatan di masyarkat, pemilik hak suara sudah tidak mau atau mau memilih jika ada uang.

Sesungguhnya saya saja yang menghubung-hubungkan pembicaraan kami dengan politik. Karena menurut saya ada hubungannya. Beruntung tampaknya ia menyadari saya terlalu jauh sehingga ia kembali bicara soal bidang yang memang selama ini ia geluti.

Di tengah kami bincang-bincang, orang yang awalnya saya cari terlihat masuk di halaman dengan sepeda motor yang yang ia kendarai. Ia lalu ikut bergabung dan menambahkan banyak pandangan dan informasi lain. Lalu muncul lagi seorang perempuan. Saya hanya menduga-duga perempuan ini sama posisinya dengan kedua orang yang telah saya ajak bicara.

Sebenarnya seorang perempuan di antara mereka di kantor itu yang juga adalah seorang fasilitator PSD GSC, sudah sering saya ajak bicara di telpon bahkan sering saya SMS dan saya tahu namanya, tapi saya tidak kenal wajahnya.

Ini juga yang menjadi penyesalan saya saat menuruni tanjakan meninggalkan kantor itu. Karena sampai saya menyalami mereka satu-satu saat saya pamit pulang, saya tidak tanyakan apakah perempuan itu yang pernah saya telpon dan saya SMS adalah dia yang telah saya jabat tangannya.

Tiba di rumah saya lalu buka-buka dua buah buku yang diberikan kepada saya oleh orang yang saya cari pertama di kantor itu.

Katanya buku itu mungkin akan bermanfaat bagi saya untuk lebih memahami program PSD GSC itu. Usai membuka-buka buku, saya lalu menulis catatan hasil pertemuan dan bincang-bincang saya dengan kedua lelaki itu. Tentu saja tidak semuanya saya tulis.

Catatan selesai, saya coba untuk tidur siang. Tapi tiba-tiba saya ingin keluar rumah dan pergi entah kemana. Pokonya saya mau keluar rumah. Kemana saja. Kemana arah sepeda motor nanti saya arahkan jika sudah diluar rumah, nanti saja.

Di jalan, saya arahkan perjalanan saya ke jalan menuju Kecamatan Kalukku. Mau apa di Kalukku? nanti saja. Pokoknya jalan.

Sambil berpikir motor jalan terus dan perjalana sudah cukup jauh. Sebelum melintas di hadapan satu-satunya pos polisi lalulintas di antara Kota Mamuju dengan Tasiu- Kalukku, saya dihadapkan pada sebuah pemandangan yang nyaris menghentikan saya untuk sebuah pertanyaan; Enak mana cari uang atau di sekolah?

Seorang anak lelaki kecil, kira-kira kalau sekolah mungkin SD kelas dua, berlawanan arah dengan saya berjalan di tepi aspal yang panas menyengat sambil "mambulle bau" dipundaknya.

Dia tidak memandang saya ketika saya melihatnya sepintas sambil sepeda motor saya tetap melaju. Tampaknya ia sedang memandang ke arah lain. Terlihat seperti mendongak menyamping ke sebelah kiri tepi aspal yang ia pijak selangkah demi selangkah.

Di kepalanya ada topi lusuh mungkin milik bapaknya karena kebesaran untuk ukuran kepala anak se usianya. Kemana anak itu akan melangkah? Saya tahu di jalan ini kita memang akan banyak bertemu orang yang menyusuri jalan mambulle bau untuk jualan di bawah terik matahari.

Tapi kali ini saya pertama kali melihat anak kecil itu. Biasanya ibu-ibu atau perempuan muda. Entah mungkin masih gadis. Tapi anak ini baru. Atau mungkin saya yang selama ini tak sempat melihatnya. Dan ia pasti jualan juga. Sebab saya melihat jelas, bahkan ada ikan yang ia bawa dibungkus degan kantong palstik.

Jika dibanding dengan uang yang dihabiskan orang-orang kaya yang diantaranya adalah pejabat untuk bersantai di tempat-tempat hiburan, uang hasil penjualan ikan anak kecil itu tidak berarti apa-apa.

Lalu pertayaan saya sambil tetap mengendarai sepeda motor adalah sampai kemana anak itu akan melangkah di bawah panas terik matahari? Bagaimana jika ikan yang ia bawa tidak ada yang beli? Lalu berapa harga ikan yang saya lihat tak sampai dua kilogram itu? Apakah mencari uang bagi anak kecil ini masih lebih enak dibanding kembali ke sekolah.

Lalu muncul pikiran saya yang lain. Bisa saja anak itu bukan anak putus sekolah. Tetapi ia telah pulang sekolah dan mengisi waktu luangnya untuk mencari nafkah.

Saya lalu teringat dengan kisah orang-orang sukses bahkan mereka yang masuk daftar orang terkaya di dunia, yang pernah saya baca di majalah. Mereka ada yang memulai usahanya dari jalan. Bahkan ada yang pernah jadi gelandangan, dihina dan diacuhkan orang karena tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah. Bahkan ada yang tak bisa membaca. Tapi mereka belajar juga. Belajar bagaimana mengahadapi hidup. Dan menang. Mungkinkah anak itu juga bisa? Hanya Tuhan yang tahu.

Subscribe to receive free email updates: