Hilang dan "Kembalinya" Peran Adat di PUS


Periode belakangan di PUS, kususnya sejak masuknya Belanda yang datang menanamkan pengarunya, saya melihat ada semacam gejala adanya upaya pemerintah Belanda untuk menjauhkan masyarakat adat dengan para pemimpin adatnya di masa itu.


Pertama: adanya penghapusan istilah penghormatan yang biasa digunakan melalui panggilan atau penyebutan tertentu kepada seseorang yang lebih dituakan atau yang dianggap sebagai kalangan pemimpin masyarakat ketika itu, melalui pelarangan menggunakan istilah-istilah penghormatan itu.

Padangan saya ini berangkat dari sebuah keterangan yang pernah saya dapatkan dari salah seorang tetua adat manyarakat PUS. Disebutkan bahwa mereka yang melanggar aturan itu, baik yang dipanggil maupun yang memanggil dengan istilah-istilah penghormtan itu, duanya-duanya akan dihukum cambuk oleh petugas atau tentara pemerintah Belanda.

Kedua: adanya pemberian peran lebih kepada pemimpin adat - melebihi peran yang ada sebelumnya - dengan kewenangan yang bernuansa kekuasaan yang memaksa dan bukan peran melayani atas dasar cinta kasih layaknya antara orang tua dan anak.

Kasus pertama menyebabkan hilangnya ikatan emosional dan komunikasi yang saling menghormati dan penuh kasih sayang antara pemimpin adat dan mayarakat yang dipimpinya.

Kasus kedua, memaksa para pemimpin adat untuk bertindak diktator dan otoriter kepada rakyat yang tak lain adalah kerabatnya sendiri. Akibatnya timbul amarah, kebencian dan dendam. Keadaan menjadi kacau, Belanda lalu tampil sebagai pemberi "solusi".

Salah satu contoh adalah dalam soal keharusan memungut pajak. Ketika itu, tidak jarang seorang kepala atau pemimpin adat berurai air mata sambil memukuli rakyatnya dihadapan tentara Belanda karena si rakyat dikenai hukuman cambuk sebab melanggar tidak patuh membayar pajak.

Di periode ini banyak pemimpin adat yang mundur dan menghilangkan diri bahkan mati ditembak berdiri karena mereka tidak sanggup, tidak tega berbuat zalim dan tidak mau menghukum cambuk rakyatnya dan itu dianggap sebuah bentuk penentangan kepada pemerintah Belanda.

Bahkan tak sedikit pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang pada akhirnya bertindak melawan dengan angkat senjata dan kemudian gugur di medan laga karena berperang dengan Belanda atau dengan pribumi yang sudah jadi kaki tangan Belanda.

Sebab ada saja oknum dari pribumi yang juga sering dari kalangan tokoh atau kaum adat sendiri, yang justru merasa mendapat angin segar dan kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan dengan masuknya kaum penjajah.

Orang-orang sempalan yang serakah dan haus kuasa ini lalu membuat tipu muslihat agar mereka yang tampil sebagai perpanjangan tangan kaum penjajah.
Mereka dengan pogah berjalan kemana-mana di depan tentara Belanda sambil menepuk dada. Padahal tindakannya itu jelas-jelas mencatatkan dan menjadikan dirinya sebagai penghianat bangsa.

Paling akhir, pemerintah Belanda kemudian menghapus sama sekali kepemimpinan adat dengan mengangkat kepala-kepala distrik dari orang-orang yang tentu saja harus patuh pada Belanda, kemudian dibayar atau gaji untuk jadi kaki tangan pemerintah imperialis yang berkuasa penuh mengatur peri kehidupan rakyat.

Dari siniliah babak baru tatanan kehidupan masyarakat adat berubah dengan hilangnya kepemimpinan adat yang selama periode sebelumnya telah melindungi dan menjaga martabat rakyat. Tatanan itu berganti seiring dengan tampilnya kepemimpinan yang mengedepankan kekuatan dan kekuasaan.

Lalu sekarang struktur kepemimpinan adat itu mau diangkat lagi dengan niat menghidupkan adat istiadat dan tradisi leluhur. Sayangnya, diantara para penggas itu, ada yang sepertinya belum sadar bahwa ada periode-periode tertentu yang mewarnai perjalanan sejarah kehidupan manusia.

Khusus di PUS, langkah menampilkan satu hal atau suatu cerita kejadian atau sebuah kisah yang berisi rentetan beberapa kejadian, lalu hal itu dianggap seolah merupakan fakta keseluruhan yang berlaku umum dan diklaim sebagai identitas PUS yang paten, dengan berdasar pada fakta atau sedikit bukti yang diperoleh dari salah satu periode, misalnya pada periode masuknya pengaruh kekuasaan Belanda, maka tentu langkah dan tindakan itu bisa dianggap kurang bijaksana.


Subscribe to receive free email updates: