Karomah KH. Ambo Dalle: Sumur Asin Menjadi Tawar

Abd. Rahman Arsyad, salah seorang santri KH. Abdurrahman Ambo Dalle memiliki pengalaman saat nyantri di Pondok Pesantren DDI Kaballangan tahun 1985 - 1991.

Dalam buku "Anregurutta Ambo Dalle Lentera dari Tanah Bugis", dosen pada berbagai perguruan tinggi di Samarinda ini menceritakan pengalamannya mendampingi Anregurutta mengadakan perjalanan ke berbagai daerah.

Pertengahan tahun 1989, Ia mendampingi Gurutta melakukan safari di tiga provinsi: Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.

Ketika berada di Sulawesi Tengah, tepatnya di daerah Toli-Toli di daerah pinggiran pantai sekitar Bembala, Gurutta dan dirinya dijamu. Kepada pemilik rumah Arsyad meminta kobokan karena Gurutta tidak senang pakai sendok dengan alasan kurang berkah.

Pemilik rumah lalu memberitahu bahwa air yang ada di baskom besar itulah yang disiapkan untuk kobokan Gurutta karena nanti setelah Gurutta pakai cuci tangan, air bekasnya akan diambil berkah oleh masyarakat.

Dengan bijaksana Gurutta lalu memberi pengertian bahwa kalau untuk makan sebaiknya dengan kobokan kecil saja, sedangkan air yang di baskom akan didoakan oleh Gurutta dan tidak perlu dijadikan kobokan.

Ketika Arsyad bertanya mengapa air bekas cuci tangan Gurutta diminta sebagai berkah, warga menjawab bahwa dulu di kampung tersebut air tawar sangat susah didapatkan karena berada di pinggir laut.

Saat Gurutta datang ke tempat tersebut tahun 1970-an Gurutta mendoakan air, lalu air tersebut dicampur ke sumur dan atas izin Allah SWT, sejak itu air sumur yang dicampur dengan air yang telah didoakan Gurutta menjadi tawar.

Ketika lain waktu Arsyad kembali berkunjung ke tempat tersebut, air sumur itu masih tawar.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Karomah KH. Ambo Dalle: Sumur Asin Menjadi Tawar"