Kisah Humanis Sri Sultan HB IX

GEPEJI. COM - Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX sebagai Raja Yogyakarta disebut sarat akan paradoks oleh Jon Monfries, seorang akademisi Australian National University sekaligus penulis buku biografi HB IX berjudul A Prince in Republic: The Life of Sultan Hamengkubuwono IX of Yogyakarta.


Jon Monfries, seperti dilansir dari laman Sindonews.com, Jumat (11/5/2018), menyebutkan sikap Dorojatun, nama kecil HB IX, yang sederhana menjadi salah satu alasannya. Selain itu, calon raja ini dianggap sebagai pelajar yang sangat kalem sekaligus konserfatif.

Disebutkan, meski mengenyam pendidikan Barat dan juga bergaul dengan orang-orang belanda, HB IX tak sekalipun menggunakan ungkapan intelek. Sebaliknya, HB IX justru lebih memilih kata-kata polos yang membumi supaya rakyat dapat memahami apa yang ia katakan.

HB IX juga berpembawaan kalem dan humanis. Namun sifat-sifat tersebut tak lantas memudarkan sisi tegas dirinya ketika memimpin rakyat sebagai seorang raja. Perkataan paling melekat pada HB IX kepada penjajah Belanda adalah: “Kalau Anda mau merampas keraton, saya lebih suka mati!”

Pada 18 Maret 1940 HB IX diangkat menjadi raja bernama lengkap “Ngarsadalem Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Hing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah Hingkang Jumeneng kaping Sanga”.

Menduduki tahta sebagai raja, HB IX pun membuang sifat feodalnya dan sama sekali tak segan melangkah keluar masuk pedesaan hingga ke wilayah Gunungkidul dan juga Kulonprogo. Bisa dianggap HB IX merupakan pionir blusukan.

Ada kejadian unik ketika HB IX blusukan di Desa Godean. Tiba-tiba seorang perempuan menghadang laju Land Rover-nya. Rupanya ia adalah penjual beras yang sudah sangat renta. Tak pikir panjang, HB IX menghentikan jip buatan Inggirs di pinggir dan turun.

Belum sempat HB IX membuka mulut mengucapkan sepatah kata pun, perempuan tua tersebut berseru memberikan perintah dengan lantang: “Niki, karung-karung beras niki diunggahake! (Ini, karung-karung berasnya dinaikkan!)”

Rupa-rupanya wanita tersebut tak mengenali wajah Sri Sultan yang merupakan Raja Jawa tersebut. Ia salah mengira HB IX adalah sopir angkutan beras yang biasanya mengantarkan para pedagang ke Pasar Kranggan di wilayah Kota Yogyakarta.

Dan sikap yang ditunjukkan Sri Sultan benar-benar diluar dugaan. Tanpa membantah, beliau mengangkat dua karung beras dan meletakannya di belakang kendaraan miliknya. Sementara sang penjual beras dengan santainya menaiki jip dan menduduki tempat di samping Sri Sultan.

Perjalanan berlalu dengan begitu renyah. Keduanya tenggelam dalam percakapan hingga akhirnya tiba di tempat tujuan. Tak menunggu perintah turun, Sri Sultan keluar dari mobil dan tangkas menurunkan karung-karung besar beras milik sang penjual.

Begitu semua karung diturunkan, penjual beras tersebut segera merogoh kemben tuanya dan mengulurkan uang lembaran kepada Sri Sultan. Bukannya menerima, pria tersebut dengan ramah tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Diluar dugaan, perempuan itu malah merasa terhina mengira sang sopir menolak bayaran perjalanan karena jumlahnya tidak seberapa. Tetapi dengan penuh kerendahan, Sri Sultan berkata: “Pun boten sisah, Mbakyu (Sudah, tidak usah bayar, Mbak),” dan bergegas memacu Land Rover ke arah keraton.

Meski kendaraan Sri Sultan sudah tak lagi terlihat, perempuan tersebut tetap melanjutkan omelannya membuat orang berkumpul menyaksikan perilakunya. Untung seorang polisi menghampiri dan menjawab tanda tanya besar di kepalanya dengan mengatakan ‘sopir’ itu adalah Ngarsa Dalem.

Siapa yang tak terkejut mendengar kenyataan tersebut. Saking kagetnya, sang penjual beras hilang keseimbangan dan sampai jatuh pingsan. Ia pun dilarikan ke RS Bethesda. Semua kejadian menggelitik tersebut disaksikan oleh SK Trimurti, istri Sayuti Melik, sang pengetik naskah proklamasi.

Wanita mantan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia tersebut mengisahkan kejadian unik itu pada 1946, tepat ketika pemerintahan Republik Indonesia pindah ke Bumi Yogyakarta. Cerita pun tersiar dari mulut ke mulut hingga akhirnya terdengar oleh Sri Sultan.

Mendengar kabar bahwa penjual beras yang mengomelinya masuk rumah sakit, tak menunggu lebih lama lagi, beliau bergegas menjenguk rakyat yang selalu menempatkan dirinya sebagai raja di hati mereka.

Sewaktu Yogyakarta diduduki Jepang, pada 5 Maret 1942, HB IX menurunkan perintah untuk membuat proyek Selokan Mataram yang menyambungkan Sungai Progo dan Opak untuk irigasi dan menjadi alasan supaya rakyatnya terlepas dari kerja paksa Romusha.

Pembangunan selokan sepanjang 30.879 km itu sendiri melibatkan 1.289.000 orang dan berlangsung dari 1943-1944. Hasilnya, tak seorang pun rakyat Yogyakarta jatuh menjadi korban. Dan rupanya proyek tersebut sesuai dengan agenda Jepang yang ingin meningkatkan produksi pangan daerah jajahan.

Ketika Jepang akhirnya menyerah, dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, HB IX – Paku Alam VIII mengirimkan surat kawat berisi ucapan selamat pada 18 Agustus 1945. Pada tanggal 19 Agustus, Soekarno memberikan piagam penetapan kedudukan Yogyakarta. (net)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Humanis Sri Sultan HB IX"