Potensi Konflik Komunikasi Tanpa Ekspresi

Oleh: Muhammad Gufran Padjalai 
Berkomunikasi melalui pesan teks di media sosial misalnya WhatsApp, Messenger dan lainnya, bisa saya katakan telah kehilangan ekspresi tubuh atau gesture si penutur atau penulisnya seperti yang ada pada komunikasi tatap muka.

Ironisnya penerima (pembaca) ataupun pengirim pesan yang ditulis tersebut, berada dalam kondisi yang tidak bisa saling mengetahui keadaan emosional masing-masing, sebab penerima dan pengirim pesan tidak sedang berhadap-hadapan muka secara langsung.

Akibatnya pihak-pihak yang terlibat komunikasi melelui aplikasi pesan teks, sangat bebas untuk berimajinasi, bebas berprasangka atau membayangkan ekspresi dan gesture penulis saat menyampaikan kalimat demi kalimat yang ditulis di pesan WhatsApp atau Messenger yang dibaca.

Sementara, saat membaca pesan dari pengirim pesan, kecenderungan yang terjadi adalah penerima pesan akan mencari-cari bentuk ekspresi tubuh dan gesture penulis pesan yang sedang dibacanya.

Mengapa cenderung dicari-cari? Sebab secara alamiah gestur adalah bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu, baik sebagai pengganti wicara ataupun bersamaan dan paralel dengan kata-kata yang diucapkan. Gestur sebagai bentuk komunikasi, mengikutkan pergerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh.

Oleh karena itu, komunikasi tanpa ekspresi tubuh atau gesture seperti pada pesan teks WhatsApp, Messenger dan lainnya, berpotensi menimbulkan salah paham yang bisa berujung konflik dari para pihak yang terlibat. Sebab satu kata saja yang sesungguhnya mungkin bermaksud baik, namun bisa diterjemahkan dalam bentuk lain sesuai imajinasi atau prasangka, karena dipengaruhi suasana hati pembacanya. Hal ini disebabkan karena ekspresi wajah atau gesture penulis pesan tidak terlihat atau tidak tampak secara langsung.

Misalnya, kita bisa saja menulis pesan teks di WhatsApp atau Messenger sambil senyum-senyum dan bermaksud membuat lelucon, namun pembaca bisa saja akan menangkapnya sebagai sebuah sindiran, teguran, atau mungkin umpatan dan makian yang menyakitkan.

Sebalikinya, seseorang mungkin berkata-kata yang untuk sebagian orang sangat kasar, namun karena kata-kata itu diucapkan oleh seorang kepada sahabat dekatnya sebagai bentuk keakraban disertai gerakan tubuh dan ekspresi wajah bersahabat yang dilihat secara langsung, maka kata-kata itu sekalipun bermakna kasar, namun bukan merupakan  masalah bagi pihak yang dituju.

Mungkin hal inilah yang disadari para pencipta aplikasi pesan seperti WhatsApp atau Messenger dan lainnya sehingga aplikasi yang mereka ciptakan dilengkapi dengan emoticon sebagai bentuk ungkapan hati dan ekspresi wajah dari masing-masing pihak yang terlibat komunikasi.

Emoticon sendiri sesuai pengertiannya adalah tulisan tipografi (menciptakan kesan) yang merepresentasikan ekspresi wajah, mulai dari tersenyum, menangis, tertawa, sedih, marah, dan semacamnya. Sehingga tentu dapat dipahami bahwa tujuan emoticon adalah untuk memberi tahu partner komunikasi tentang bagaimana suasana hati dan ekspresi tubuh si penulis saat menulis pesan teks yang dikirim.

Setelah menyadari hal di atas, maka yang dibutuhkan kemudian adalah kedewasaan setiap individu pengguna aplikasi pesan yang ada agar senantiasa mengedepankan pikiran, prasangka atau imajinasi yang positif dalam memahami setiap pesan teks yang dikirim dan terutama yang diterima sebelum membuat suatu kesimpulan.

Dan untuk menghindari kesalahpahaman, maka berbalas pesan teks di aplikasi media sosial, sebaiknya tetap diupayakan berada dalam suasana kelembutan, kasih sayang dan persaudaraan serta jangan lupa manfaatkan emoticon sebagai bentuk ekspresi wajah dan ungkapan hati yang bersahabat.

Dan di atas dari semua itu, bertemu dan silaturrahmi secara langsung dengan cara bertatap muka antara para individu secara langsung haruslah tetap menjadi hal yang utama dalam berkomunikasi.

Mamasa, 17 April 2018

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Potensi Konflik Komunikasi Tanpa Ekspresi "