Wajah-wajah

Sejak terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, saya menjalani dua profesi dengan dua tuntutan tugas sekaligus yang sama-sama menguji kesabaran. Sebagai seorang guru di sebuah sekolah dasar, setiap hari kecuali Ahad, saya di hadapakan pada wajah-wajah polos yang kadang konyol. 

Dan sebagai seorang mahasiswa, tiga sampai empat kali dalam semiggu, tak terkecuali Ahad, dihadapkan pada wajah-wajah dosen yang kadang terlihat kaku dan wajah-wajah teman yang lebih banyak cuek diantara sedikit yang tegang. Tetapi beberapa diantara kami menjalani itu untuk sedikit meningkatkan kualitas profesi.  

Selainnya, dan itu jauh lebih banyak, adalah demi satu tujuan; syarat mendapatkan sertivikat profesi yang dengan itu bisa menghitung berapa tunjangan perbulan. Jadi, sebenarnya adalah demi kesejahteraan.

Sebagai guru. Saat berada di kelas, menghadapi wajah-wajah itu, wajah polos di bawah usia yang juga kadang membuat tensi darah saya meningkat, berbagai perasaan berkecamuk dalam dada. Sebab, pada diri merekalah, ditentukan nasib bangsa dan daerah ini di masa depan. Dan tanggung jawab saya sebagai guru dan orang yang mendahului mereka lahir, untuk membantu mereka merancang masa depan.

Namun tanggung jawab itu tidak bisa terlaksana sepenuhnya. Terlalu banyak masalah yang mengusik saya yang lalu menimbulkan kegundahan. Dan kegundahan itu hanya bisa sedikit terobat, ketika saya coba menikmati tingkah mereka dengan memandangnya sebagai atraksi yang menggelikan. Tapi sejak menjalani perkuliahan dengan tugas-tugas yang menumpuk, sepertinya tidak ada lagi waktu untuk saya sedikit bersantai dengan wajah-wajah itu.

Saya sepenuhnya sadar, menjadi seorang guru adalah tugas mulia yang tidak semua orang bisa menjalani. Tidak cukup bekal pendidikan tinggi dan setumpuk kecerdasan untuk menjadi seorang yang benar-benar guru. 

Menjadi seorang guru bukan hanya sebuah atribut pekerjaan yang dilekatkan. Terlalu sering  seseorang memilih bidang pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan berdasarkan peluang. Dan peluang bekerja dan bergelut di bidang pendidikan atau guru selalu terbuka lebar. Tanda begitu penting arti sebuah pendidikan.

Menjadi seorang guru dituntut lebih banyak kesabaran. Selain bersentuhan langsung dengan jiwa anak-anak yang lebih banyak belum mengerti apa-apa,  dan tugas saya sebagai guru untuk membuatnya lebih banyak mengerti berbagai hal, persoalan politik, pemerintahan dan kebijakannya terhadap peningkatan kesejahteraan, kadang mengusik saya dalam mengajar sekaligus belajar, sehingga dalam mengajar bentuknya malah lebih sering  tidak mendidik.

Saya memang tidak banyak mengerti, sesungguhnya apa, bagaimana dan yang terjadi dengan politik, pemerintahan dan para pengambil kebijakan. Tapi nasib akan lebih baik yang selama ini dijanjikan setiap kali mereka, para pemeran politikus itu ramai-ramai berwajah polos dalam gambar yang memenuhi sisi jalan, sepertinya kian jauh dari kami masyarakat kecil. 

Sehingga tak salah, bila melihat gambar itu yang terbaca di hati kami adalah, hati-hati sering  terjadi kekecewaan. Serupa peringatan rambu lalulintas di pinggir jalan, Hati-Hati Sering Terjadi Kecelakaan !

Perhatian politikus yang kini duduk di pemerintahan pada kesejahteraan kami sepertinya dikalahkan oleh perhatian politikus dan wakil rakyat terhadap persoalan bagi-bagi kekuasaan. Hingga persoalan hak yang katanya seharusnya kami peroleh kini malah menjadi komuditas politik, dan oleh sebab itu yang ada malah menjadi semacam bagi-bagi kesejahteraan. 

Padahal saya tahu saya bisa jadi guru juga mahasisawa sekarang ini, karena jasa guru. Tapi yang duduk di dewan dan pemerintahan, saya tidak tahu karena atas jasa siapa ? Yang saya tahu, mereka juga pernah jadi anak sekolah.

Saya mengerti, menjadi guru adalah tugas mulia dan saya sadar pada pilihan itu. Tapi saya tidak pernah secara sadar memilih menjadi seorang manusia yang selalu dipenuhi perasaan-perasaan yang menyesakkan dada acap kali melihat wajah para politikus dan pejabat yang berlagak polos melihat nasib rakyat kecil seperti kami yang benar-benar polos didera bencana,  sehingga saya sebagai guru dan rakyat kecil kadang  kehilangan kesabaran dalam berbagi dengan  wajah-wajah yang benar-benar polos itu di kelas.

Hari itu saya kembali menatap wajah-wajah polos anak-anak didik saya di antara deretan-dertan bangku. Tugas-tugas kuliah yang memaksa saya harus tidur larut malam dan pagi disuguhi siaran sebuah stasiun TV yang menayangkan berita yang lagi-lagi tentang penjahat pajak yang bebas bersantai di pulau wisata dan di isukan karena  atas undangan seorang  tokoh politik paling sejahtera di negeri ini untuk bertemu, membuat mata saya nanar menatap wajah-wajah itu. 

Mereka nampak mencemooh saya yang mungkin dianggap bagian dari guru yang lalai mendidik mental mereka yang sekarang jadi pejabat dan kini pun saya sebagai guru telah pula lupa membuat persiapan mengajar.

Saya gelagapan membuat improfisasi agar tidak terlihat tolol dihadapan mereka. Dengan sisa tenaga yang ada saya berusaha tampil maksimal di depan mereka dan coba menjadi seorang yang layak disebut guru  yang baik. Karena tidak disangkal, kata orang, ada juga guru yang, maaf, tidk baik. Tapi mereka, wajah-wajah yang benar-benar polos itu sepertinya benar-benar tidak tahu gerangan apa yang menimpa gurunya. 

Dengan kepolosannya itu, mereka masih seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan hari ini mereka sudah mulai lebih berani.  Mungkin itu sebuah perubahan pertanda mereka kelak akan lebih baik menata bangsa ini di masa depan. Tapi dalam kondisi seperti sekarang, saya kurang menyukainya.

Dan akhirnya terjadilah apa yang paling saya benci selama ini. Saya menghardik seorang anak yang datang dengan wajah polos meski sedikit terlihat ia merasa telah berbuat sebuah kesalahan. Penggaris panjang ditangan saya hampir saja mendarat di kedua kakinya. 

Tapi saya segera sadar ini bukan tindakan seorang pendidik yang baik dan saya tidak ingin digelandang ke kantor polisi dan diproses di sana. Saya tidak ingin di tuntut karena melanggar undang-undang perlindungan anak hasil rancangan para politikus dan merusak citra guru di mata masyarakat. Akan banyak guru yang di cibir oleh politikus dan masyarakat karena saya. Meskipun itu tanpa sadar saya lakukan, tapi seorang guru dituntut harus selalu sadar dalam bertindak. Guru harus lebih dari manusia biasa yang sering lalai.

Tapi anak itu belum mengerti gurunya hanya seorang manusia biasa, dan hatinya terpukul. Dia tampak sangat kecewa. Saya tahu dia tidak sedang berbohong. Saya tahu dia membantu orang tuanya dirumah sebelum berangkat kesekolah. Saya tahu dia anak paling cerdas dan patuh diantara anak-anak yang lain di deretan bangku itu. Orang tuanya juga cukup saya kenal dan saya sering sempatkan berkunjung kerumahnya untuk memberikan dorongan kepada anak itu untuk terus belajar agar dapat melakukan perbaikan di masanya.

Sebenarnya semua itu hanya kebetulan. Dia terlambat di saat yang tidak tepat dan saya tahu dia menangis buakan karena caci maki saya. Tapi karena merasa telah kehilangan seorang vigur. Kehilangan seorang guru yang selam ini menjadi anutannya. Dan kini saya yang menagis karena dia. Karena wajah polo situ.
  
Tiba di kampus hari itu, saya harus menelan kecewa. Sepanjang jalan diguyur hujan dan harus pulang karena tak seorang pun yang seharusnya saya temui ada di sana. Sepanjang jalan pulang ke rumah saya terus mengumpat dan memaki dalam hati. 

Untuk bisa sampai kerumah saya harus pindah dari satu angkot ke angkot yang lain. Jalan yang di lalui sore itu tampak terendam banjir di selingi wajah-wajah orang-orang yang terlihat cemas. Banjir sore itu lain dari banjir-banjir sebelumnya yang menjadi langganan setiap tahunnya bahkan malah kini lebih sering. Saya dan penumpang yang lain harus rela basah sepanjang lebih satu kilo meter. Sopir mobil yang saya tumpangi tidak berani ambil resiko.

" Airnya terlalu deras. Saya sampai di sini saja. Di ujung sana mungkin ada mobil lain." Berkata sopir mobil itu.

Mungkin ia takut rugi. Meskipun harga bensin telah turun. Tapi harga suku cadang kendaraan yang selama ini digunakan untuk mengais rezeki tetap melambung tinggi. Dan ia tak mau menanggung keruskan bila tetap memaksakan diri. Kami sebagai penumpang harus lebih banyak mengerti dan sabar karenanya. Toh, tarif angkutan umum yang di tentukan pemerintah mereka  patuhi.

Berselang beberapa jam tiba di rumah. Dunia seperti hendak kiamat. Di sana-sini yang tampak adalah riak air deras mengalir dengan gemuruh yang menelan suara minta tolong dari orang-orang yang rumahnya tersapu banjir. Wajah-wajah penuh diliputi ketakutan.  Pohon-pohon tumbang dan lumpur menyatu menerjang ke sana-kemari. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Namun, derita dan pilu berlalu tidak secepat hantaman dan terjangan itu. Rumah-rumah penduduk porak-poranda. Pasar, kantor-kantor dan sekolah yang menjadi tumpuan harapan wajah-wajah polos itu raib entah ke mana.

Suami kehilangan istri dan anak. Petani kehilangan sawah dan ladang. Dan yang lebih menyedihkan diantara yang kehilangan itu ada yang kehilangan segala-galanya. Bahkan ada yang dirinya hilang entah dimana.

Dan kini saya kehilangan wajah diantara wajah-wajah itu. Anak itu.  Anak dengan wajah polos beberapa hari lalu yang menjadi pelampiasan kekesalan saya ditemukan tewas tertimbun lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang entah berasal dari mana. Menurut berita yang ditulis sebuah surat kabar, ia ditemukan kaku dalam keadaan memeluk adiknya yang telah menjadi mayat tidak jauh dari tempat dimana saudaranya yang lain sebelumnya ditemukan  juga dalam keadaan tidak bernyawa.

" Ia mungkin sedang berusaha menyelamatkan adiknya namun tidak berdaya menghalau kayu-kayu itu. Apalagi dia tidak seorang diri." Kata salah seorang tetangga yang terakhir melihat anak itu sesaat sebelum  ia sendiri menemukan dirinya  terdampar dan berhasil menyelamatkan diri.

Saya terpaku menatap tanah merah pekuburan itu. Terbayang kembali wajah sesal saat saya caci maki di depan kelas beberapa hari lalu. Dalam hati saya berucap; " Maafkan kami. Engkau telah menebus kesalahan-kesalahan kami yang belum sempat engkau mengerti."

Subscribe to receive free email updates: