Tentang Kawan yang Entah Siapa

Ini tentang sahabat yanga baru akau kenal. Baru sekali bertemu dan mungkin sebelumnya tak pernah tahu aku siapa. Aku tidak tahu dia siapa itu pasti, wajahnyapun tidak akan aku kenal bila suatu ketika kembali bertemu. Tapi besar harapan untuk bisa menemuinya. Dan itu adalah janji bagi diri.

Aku berjumpa dengannya disaat aku tengah dalam kepasrahan pada keadaan yang disebabkan karena kecerobohan sendiri. Tapi yang membuat aku terkesan dan akan selalu mengenangnya adalah keikhlasan dan ketulusannya serta kepedulian dan segala yang ia miliki saat itu yang boleh jadi sekarng sulit ditemui.

Saat catatan ini kutulis untuk sahabat baruku dan untuk siapa saja yang membaca nantinya, di HP ku jam menunjukkan pukul 21: 58. Dan saat kutulis itu aku tengah berada di Majene. Tanpa kehadiran dan pertolongan sahabat baruku itu mungkin aku belum berada disini. Jangankan menikmati secangkir kopi sambil melotot di depan layar yang dengannya catatan itni kutulis yang ada malah mungkin tengah kelelahan atau apapun yang bisa saja terjadi.
                                                                          ***
Ditengah kegelapan malam, saat dengan sepeda motor tengah menyusuri jalan sepi dimana tak terlihat satupun rumah di sepanjang kedua sisi jalan, tiba-tiba sepeda motor yang selama ini memang bahan bakarnya tak lagi bisa di ketahui, masih ada atau habis yang disebabkan karena kelalaian juga, mogok setelah bebrapa meter sebelumnya sudah terasa kalau bensinya habis.

Pasrah. Tidak ada pilihan. Jalan di depan, kegelapan masih membentang jauh. Hanya ada sebuah pos polisi yang kutahu berada tak jauh dari situ. Samar-samar sudah terlihat seberkas cahaya disana. Tapi sesuatu yang tidak mungkin untuk berharap lebih banyak.

Kuputuskan untuk turun dan mulai melangkah sambil menuntun sepeda motor. Mungkin sekitar dua kilo lagi ada perkampungan, itu satu-satunya harapan. Kendaraan satu-dua melintas, tapi aku tak berani berharap lebih banyak.

Dan saat itulah sang "dewa" penolong datang.

" Kenapa Pak ? " Seorang anak muda mendekat. Aku tersenyum juga di panggil Pak. Perasaa masih ABG.

"Bensinnya habis " Kujawab sambil masih senyum -senyum.

" Di dorong saja " Maksudnya di dorong dari belakang sambil dia tetap naik motor dan aku tetap naik motor juga.

Yah... Begitulah jadinya. Ahirnya dapat juga penjual bensin botolan. Tak jauh dari situ si "dewa" penolong juga berhenti. Setelah dapat bensin, sesaat aku mampir. Sambil memperlihatkan rumahnya dia mengajak singgah. Tapi karena sudah malam saya janji akan singgah lain kali saja. Dan itu janjiku dalam hati. 

Subscribe to receive free email updates: