Badan Gemuk Urusan Lancar


Memiliki badan yang sedikit tinggi dengan postur tubuh yang gemuk besar menyebabkan aku dikenal sebagai cewek bongsor, gendut dan segala macam istilah lain yang kadang sungguh membuat sedih, kesal, sakit hati dan marah.
Hati siapa tidak akan sakit jika berjalan lalu dilirik dengan tatapan aneh dari banyak orang? Hati siapa tidak akan kesal, jika berdiri atau duduk di suatu ruangan, kemudian selalu saja ada orang yang menatap seolah tengah melihat mahluk asing dari luar angkasa?
Sedih, kesal, sakit hati dan marah. Itulah yang kurasakan di masa-masa awal ketika menyadari diriku sering diperhatikan dengan tatapan aneh dan bahkan sering jadi bahan omongan. Semua itu membuatku sempat dihinggapi rasa frustasi.
Ketika itu aku mulai merasa minder untuk bergaul. Aku disusupi perasaan tidak sanggup berada di antara orang-orang dalam segala aktivitas.
Tetapi tetap aku paksakan melalui hari-hariku seperti biasa, seperti umumnya yang orang lain lakukan. Ke sekolah, belajar bersama dan bertemu dengan banyak orang di luar rumah.
Dan dengan semakin banyaknya pengalaman melihat lirikan-lirikan aneh dari banyak pasang mata di banyak waktu dan kesempatan, aku mulai merasa terbiasa dengan kenyataan itu. Aku lalu memutuskan untuk menerima semua itu. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Pikirku, orang-orang yang memelototi diriku tidak akan membuatku rugi. Justru orang-orang itu sendiri yang akan kehilangan waktu dan konsentrasi gara-gara sejenak melirik ku dan mungkin berpikir macam-macam tentang diriku.
Aku buang jauh-jauh keinginan untuk menaggapi tatapan-tatapan aneh itu. Aku biarkan saja mereka memperhatikan diriku di jalan, di tempat keramaian, di pasar, di kantor atau di kampus saat aku telah mulai disibukkan dengan urusan kuliah.
Seiring perjalanan waktu, aku benar-benar telah melupakan apapun anggapan orang mengenai tubuhku yang bongsor. Aku merasa biasa saja dengan lirikan bahkan omongan-omongan orang.
Bagiku, sepanjang yang aku lakukan tidak salah, tidak mengganggu orang lain, terserah orang mau bilang apa. Aku anggap tidak penting untuk memperhatikan apa reaksi mereka ketika melihat diriku ada diantara mereka.
Perlahan-lahan, rasa percaya diriku tumbuh. Rasa percaya diri itu tumbuh seiring munculnya kesadaran baru bahwa ternyata aku memiliki banyak kelebihan.
Memang sekalipun secara fisik aku tidak seperti orang-orang yang mungkin merasa fisiknya jauh lebih baik dan sempurna di banding diriku, tetapi potensi diriku dalam kegiatan sehari-hari seperti di kampus dan kantor, tidak kalah dibanding teman-teman bahkan mereka yang sudah lebih senior.
Aku memang secara fisik sering ditatap aneh, tetapi aku bisa meyaingi mereka dari segi keterampilan dan kemampuan intelektual.
Seiring perkembangan dan kemajuan teghnologi yang semakin modern, aku bahkan semakin bisa berbaur dengan banyak orang dalam dunia kerja. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang telah mengenalku, sering meminta bantuaku untuk menyelesaikan satu masalah.
Dan satu hal yang menjadi modal utama yang terus mendorong dan memberiku semangat dalam bekerja di kantor bekerja adalah karena aku mencintai pekerjaanku dan aku bangga sebagai abdi negara.
Selama bertahun-tahun bergelut dengan pekerjaan di kantor, aku merasa semakin nyaman dengan orang-orang yang ada di sekelilingku.
Bergaul dengan mereka, banyak pengalaman yang membuatku terus belajar memaknai hidup.
Yang paling menyenangkan, karena aku memiliki semakin babanyak teman dan kenalan. Dan itu berbekal rasa percaya diri dan ciri khas diriku yang mudah dikenali karena aku tinggi, bongsor dan gendut.
Di antara sekian banyak pengalaman tersebut, yang aku aggap paling berkesan dan unik adalah ketika aku berjuang membereskan dokumen pemberkasan untuk pengngkatan diriku menjadi seorang pegawai negeri.
Aku katakan berkesan dan unik karena waktu itu semua orang yang akan diangkat jadi pegawai negeri, harus mengumpulkan surat pernyataan dari kantor tempatnya mengabdi.
Surat pernyataan yang harus dikumpulkan itu, tujuannya untuk membuktikan bahwa kami yang akan diangakat menjadi pegawai negeri, memang benar telah mengabdi selama bertahun-tahun dan dibuktikan dengan pernyataan di atas kertas bermaterai oleh mantan-mantan Kepala Dinas atau Kepala Badan atau bos tempat kami bekerja yang sebagian di antaranya sudah ada yang pensiun.
Alhamdulillah aku tidak terlalu mendapat kesulitan karena ternyata mantan-mantan bos sangat mengenalku dan tampa bertanya macam-macam langsung membubuhkan tanda tangan.
Bahkan ada satu mantan bos yang menelpon ke salah seorang pejabat tinggi di kabupaten waktu itu, yang kebetulan adalah mantan bos juga, untuk mengatakan bahwa ia menandatangani surat pernyatan milik ku karena aku memang anak yang aktif.
Aku benar-benar dimudahkan karena dikenal oleh para mantan bos yang saya butuhkan tanda tangannya waktu itu. Sementara teman-teman yang lain, mereka susah payah berjuang mengumpulkan tanda tangan teman-teman sekantor dan bos yang masih sementara menjabat, untuk diperlihatkan kepada mantan-mantan bos yang akan dimintai tandatangannya, sebagai bukti bahwa memang benar-benar aktif.
Di tengah-tengah kesulitan dan susah payah mereka, aku sendiri merasa sangat bersyukur karena tidak banyak mengalami kesulitan. Semua orang mengenaliku bahkan mantan-mantan bos yang sudah pensiun pun masih ingat denganku.
Ternyata di balik keadaan tubuhku yang sempat membuatku frustasi, aku diberi banyak kemudahan. Di balik tubuh besarku, hikmahnya aku lebih mudah dikenal.
Tetapi dikenal fisiknya saja dalam kisah ku ini tentu tidak cukup. Sebab mereka menganaliku tidak hanya dengan ciri-ciri fisik, tinggi gemuk, tetapi juga aktif, pintar, banyak membantu dan rajin bekerja.
Dari salah satu potingan pengalamanku di atas, kiranya bisa menjadi sebuah pelajaran, bahwa keadaan fisik yang bagaimanapun jeleknya menurut pandangan kita, tidak akan membuat kita tidak mampu berbuat dan melakukan hal-hal yang terbaik dalam hidup.
Sebab jika kita mampu menyikapi apa yang kita anggap sebagai kekurangan itu secara lebih positif, kemudian dalam waktu yang sama kita terus berusaha meningkatkan kemampuan dan memaksimalkan segala potensi dan kelebihan yang tentu dimiliki semua orang, maka pada kahirnya kita akan diberi banyak kemudahan.
Sebaliknya, apapun yang dianggap sebagai kelebihan dan kesempurnaan secara fisik yang dibawa sejak lahir, tanpa dibarengi usaha dan kerja keras untuk membuatnya memilki nilai lebih sehingga bisa bermanfaat bagi diri dan kepada sebanyak-banyaknya orang lain, maka pada akhirnya kelebihan fisik tersebut tidak akan banyak membantu dalam menyelasaikan banyak masalah, bahkan yang sekecil apapun.

Subscribe to receive free email updates: