Karena Kucing Tak Pandai Membaca

Andai kucing itu pandai membaca, mungkin ia tak akan duduk berlama-lama dalam keadaan lemah di tempat itu. Pukul 14.30 di Mamuju, terik matahari terasa seakan menghanguskan tubuh. Tapi dengan kepala terpekur ke samping dan wajah yang tampak lesu, kucing berbulu putih dengan belang-belang hitam terlihat sabar dalam diam. Di belakangnya, sebuah tiang balok berdiri. Balok seukuran lengan orang dewasa itu, diselipkan pada tiga bongkahan batu yang mirip bekas pemburu batu akik.

Kucing itu memicingkan mata menahan sengatan sinar matahari. Di hadapannya hamparan bungkusan plastik berisi sampah menutupi rerumputan dan permukaan tanah.

Tak jauh dari tempatnya duduk, juga terlihat beberapa buah karung nilon yang tampak terisi penuh dengan bagian pantat yang menyentuh bibir aspal. Entah apa isinya. Tapi aromanya terasa pekat menyatu dengan udara yang terbakar matahari sejak pagi.

Mungkin kucing itu lapar. Dan sampah yang dibuang di tempat itulah yang diharapnya. Tapi sepertinya ia belum mendapatkan sesuatu. Karena itu ia pasrah menunggu gelap datang dan berusaha sabar membiarkan bulu-bulunya yang kusam ikut terbakar oleh sisa terik matahari siang.

Jika kucing itu pandai membaca, ia tentu tak akan lama-lama berdiam diri di situ. Tentu ia akan lebih memilih menghabiskan sisa tenaganya dengan berjalan ke pasar dan mengambil bagian dari banyak ikan laut yang telah beberapa pekan tidak laku. Atau mungkin ia akan datang ke tempat itu, hanya setelah malam turun.

Sebab balok kayu yang diselipkan di tiga bongkahan batu yang sepintas terlihat mirip dengan yang dijajakan di pusat-pusat keramaian di tengah kota Mamuju, jelas adalah penghalang kucing itu bisa mendapat sedikit sisa makanan di siang hari.

Balok yang nyaris rebah karena ditimpuk sampah yang ia tempati bersandar itu berdiri bukan tanpa maksud. Dua belah papan bekasa dinding rumah yang dipaku diujung bagian atasnya, terdapat tulisan dengan kalimat, "Dilarang buang sampah di sini!"

Subscribe to receive free email updates: