Lahan Kering dan Potensi Beras Padi Gogo

Lahan kering terbuka saat ini masih banyak berupa lahan tidur. Di beberapa tempat sebagian telah dimanfaatkan untuk penanaman jagung atau juga nilam, namun secara langsung kedua tanaman itu tidak mendukung ketersediaan bahan makanan pokok bagi masyarakat kita yaitu beras. 

Padahal lahan-lahan kering tersebut sesungguhnya merupakan aset berharga yang potensial untuk pengembangan padi gogo (bara'ba) jika ditangani dengan baik. Namun kenyataannya, potensi itu saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena berbagai keterbatasan.

Sementara di sisi lain, perluasan pembangunan pemukiman dan sarana infrastruktur yang saat ini mengarah ke pedesaan, menyebabkan lahan-lahan sawah subur dengan sistem irigasi (pengairan), banyak yang terkonversi (berubah fungsi) untuk kepentingan-kepentingan di luar dari kebutuhan pertanian. 

Menghadapi kenyataan itu, ada dua tindakan yang harus segera dilakukan demi tetap mempertahankan ketersediaan pangan khususnya beras dalam jumlah yang cukup, yaitu dengan intensifikasi (usaha meningkatkan hasil produksi dengan cara meningkatkan kemampuan atau maksimalisasi produktivitas faktor-faktor produksi yang telah ada) dan ekstensifikasi (perluasan lahan). 

Ekstensifikasi lahan sawah irigasi di tengah banyaknya alih fungsi lahan saat ini adalah hal yang sulit dilakukan kecuali dengan pencetakan-pencetakan sawah baru pada lahan hutan yang juga akan menimbulkan efek berantai. Hal yang paling mudah untuk ekstensifikasi lahan penanaman padi adalah dengan cara memanfaatkan dan mengoptimalkan lahan-lahan kering dengan penanaman padi gogo. 

Lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu di lahan-lahan terbuka, sekitar bantaran sungai, sekitar perbukitan daerah aliran sungai dan sebagai tumpangsari dengan tanaman perkebunan dan hutan tanaman industri.

Peluang pengembangan pertanian khususnya tanaman padi gogo ini cukup menjanjikan, baik dari segi potensi sumberdaya lahan, maupun peningkatan produktivitas melalui penerapan paket-paket teknologi yang saat ini semakin maju.

Dikutip dari situs Badan Litbang Pertanian Jawa Barat, tingkat produksi padi gogo rata-rata nasional masih rendah, yaitu baru mencapai 2,58 t/ha atau sekitar 45% dari rata-rata produksi padi sawah nasional yang sudah mencapai rata-rata 5,68 t/ha. 

Hal itu terjadi karena petani padi gogo yang umumnya petani miskin tradisional mempunyai banyak keterbatasan dan umumnya belum mengenal teknologi pertanian yang sudah maju, maka intensifikasi lahan kering untuk padi gogo memerlukan pendampingan teknologi melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).

Disinilah diharapkan peran Pemerintah Desa dengan dukungan secara berjenjang dari pemerintah di atasnya. Masyarakat perlu didorong dan didampingi dalam upaya pemanfaatan lahan kering sebagai tempat penanaman padi gogo demi mendukung ketersediaan pangan yang cukup. Kita tunggu.

Penulis: Muh Gufran (Petani di Mamuju)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Lahan Kering dan Potensi Beras Padi Gogo"