Kisah Paus Terdampar di Babalalang dan Rejeki Tak Terduga Tukang Perahu

INFORMASI dari Talunding, nelayan yang tinggal di Dusun Babalalang tentang keberadaan "ikan raksasa" di pantai muara sungai Kalukku, seketika langsung membuat warga di wilayah itu geger.


Warga yang penasaran langusung berbondong-bondong ke pantai ingin melihat keberadaan mahluk raksasa yang tak lain adalah mamalia laut jenis Paus sperma (Physeter macrocephalus) berukuran 9,5 meter.

Beberapa warga yang lebih awal tiba, merekam kemudian membagikan video mahluk yang telah jadi bangkai tersebut ke media sosial. Informasi keberadaan bangkai paus ini pun langsung viral melalui media sosial.

Tidak hanya warga sekitar yang datang ingin melihat bangkai paus tersebut. Aparat dari Instansi pemerintah, TNI dan Kepolisian, juga diketahui datang melihat langsung.

Wartawan media elektronik dan media online juga tidak ketinggalan. Demikian pula dengan para pembuat konten media sosial seperti facebook, youtube dan instagram.

Pokoknya, sepanjang hari Kamis pagi tanggal 2 Januari, hari paus itu ditemukan, dan hari sejak kabar tentang paus terdampar di Babalalang itu menyebar, warga terus berdatangan ingin melihat lebih dekat.

Babalalang hari itu, dan beberapa hari berikutnya, menjadi perhatian warga sekitar. Puluhan, bahkan mungkin ratusan kendaraan roda dua, silih berganti datang dan terparikir di sepanjang jalan ke arah pantai Babalalang. Sejumlah kendaraan roda empat juga terlihat mencari posisi aman untuk parkir di pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan areal tambak milik warga.

Di pantai, suasana layaknya pasar dadakan. Orang-orang ramai berdiri, bercerita, atau sekedar duduk-duduk di atas sepeda motor.

Setiap kali seseorang terlihat baru muncul dari arah laut, orang-orang langsung menyerbu dengan pertanyaan tentang kabar dari seberang: tentang mahluk raksasa yang ternyata keberadaanya di seberang sungai.

Karena berada di seberang sungai, untuk melihat atau menyentuh secara langsung bangkai paus tersebut, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke arah muara dan kemudian harus menyebrangi derasnya arus air sungai yang telah bercampur dengan gelombang pasang air laut.

Namun pada Kamis pagi, tidak banyak perahu yang bersedia menyebrangkan warga yang sedang tidak sabar. Hanya ada dua atau tiga perahu yang terlihat bergerak tetapi pemiliknya justeru juga sedang bersama anggota keluarganya hendak menyebrang atau pulang melihat bangkai paus.

Orang-orang yang tidak mendapatkan tumpangan, terpaksa hanya menunggu cerita lalu berkerumun melihat video di hanphone seseorang yang turun dari perahu yang baru saja menepi, namun telah pergi lagi.

Beberapa anak remaja yang tidak tahan terlalu lama menunggu, nekat menyebrang dengan cara berenang menerjang gelombang laut yang beradu dengan arus sungai yang sedang meluap.

Seorang anak laki-laki bahkan terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karena terlihat hanyut terseret arus. Ia diduga kehabisan nafas sebelum mencapai tepi pulau pasir tempat bangkai paus itu terdampar. Wajahnya terlihat pucat saat turun dari perahu. Seorang pemuda yang bersamanya menerjang arus sungai, menjatuhkan diri ke pasir dan terkulai lemas setelah berusaha menolong anak tersebut sebelum perahu penyelamat tiba.

Ahmad, salah seorang tokoh masyarakat Babalalang mengatakan, sampai pada hari Ahad 5 Januari, warga masih berdatangan. Paus tersebut memang masih dibiarkan berada di tempatnya dan belum ada upaya evakuasi dari pihak pemerintah.

Kata Ahmad, dihawatirkan kalau tidak ada perahu yang bersedia menyeberangkan pengunjung. Anak-anak banyak yang nekat berenang, dan itu berbahaya.

"Paus itu memang di seberang sungai. Ada seperti pulau-pulau pasir di muara. Jadi harus naik perahu kalau mau lihat," kata Ahmad.

Ahmad mengatakan, dirinya lalu berinisiatif mengatur tiga buah perahu untuk khusus menyebrangkan pengunjung dengan memungut bayaran lima ribu rupiah per orang pulang-pergi.

"Pemilik perahu butuh bensin. Orang ingin melihat paus. Jadi saya minta izin supaya diatur saja, supaya semua sama-sama senang. Alahmdulillah semua sepakat," tambah Ahmad.

Ia mengatakan, selama kurang lebih 3 hari sejak kemunculan bangkai paus itu, tiga buah perahu yang melayani warga memperoleh penghasilan tambahan hampir 3 juta rupiah dari menyebrangkan pengunjung. Kata Ahmad jumlah itu belum dipotong harga bensin.

"Alhamdulillah aman. Pemilik perahu sudah saling berbagi. Saya juga dapat pembeli rokok 300 ribu rupiah," kata Ahmad sambil tertawa.

Penulis: Muh Gufran Padjalai

VIDEO:


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Kisah Paus Terdampar di Babalalang dan Rejeki Tak Terduga Tukang Perahu "