Ayam Ini Kuberi Nama Preman Pasar (1)

Ayam ini kuberi nama preman pasar. Pemberian nama itu dilatarbelakangi kejadian yang menurut saya cukup dramatis. Kejadiannya Kamis Malam dua pekan lalu dan berlanjut ke Jumat pagi sampai jelang siang.



Begini ceritanya: Lepas magrib saya pergi ke pasar beli "beras" jagung untuk ayam-ayam peliharaan. Mengapa sampai pergi malam? Karena hari itu saya main volly sampai jelang magrib. 😁

Jarak rumah kami di Kampung Baru, Desa Beru-Beru, dengan Pasar Tasiu di Kelurahan Tasiu, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kalau tidak salah ingat, antara 8 atau 7 km. Tantang jarak ini, sebenarnya pernah saya ukur secara pasti menggunakan speedometer motor, tapi sudah lupa. Saya memang pelupa kalau soal angka.

Lanjut. Sore itu memang persediaan pakan ayam sudah habis. Kalau tidak malam itu saya ke pasar, ayam-ayam saya malam itu akan tidur dalam keadaan lapar.

Jadilah saya tetap harus ke pasar Tasiu - Kalukku malam itu, meski langit awal malam terlihat mulai tidak bersahabat. Ranting dan dedaunan pohon magga di halaman rumah muali bergemuruh dihempas angin dari arah pantai Babalalang. Di ujung langit utara, kilatan-kilatan cahaya terlihat merobek kegelapan malam.

Saya bergegas keluar dari rumah. Anak-anak yang memang rutin setiap malam datang ke rumah belajar membaca Al Qur'an terlihat tidak terlalu perduli dengan suasana malam itu. Biasanya mereka baru akan berteriak: "mamaaaa..." kalau kaget, dan akan berhamburan pulang ke rumah masing-masing, jika ada petir membelah langit dan seperti hendak meledakkan atap rumah.

Di depan pintu sejenak saya menatap langit. Tidak ada bintang-bintang yang menampakkan diri. Langit Kalukku malam itu benar-benar pekat. Sekalipun tidak bisa dipastikan, tapi suasana seperti itu sudah biasa dan bisa dibaca sebagai pertanda sebentar lagi akan turun hujan.

***

Usai mendapatkan sekantong plastik besar beras jagung di pojok belakang pasar Tasiu, saya mampir ke rumah kakak yang memang tidak jauh dari pasar. Hujan benar-benar telah membasahi langit malam itu.

Di temani segelas kopi, di rumah kakak, saya isi waktu menunggu hujan reda dengan buka-buka youtube tentang inovasi-inovasi pertanian dan peternakan. Bercocok tanam buah-buahan, bahkan tanaman hias dan beternak adalah hal yang selalu menarik perhatian saya.

Di tengah "acara" nonton yang banyak menguras paket data itu, saya mendapat telpon dari rumah bahwa hujan di luar sangat deras.

Namun berbeda dengan di rumah kakak, hujan justeru mulai reda. Hampir pukul 22.00, saya memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa bertanya kembali ke rumah, bagaimana kondisi hujan di luar sana.

***

Tiba di rumah hujan baru saja berhenti. Bahkan saya "dikatai" nekat oleh istri karena saya tiba di rumah hampir bersamaan dengan hujan juga baru saja berlalu.

Saya lalu bilang, bahwa memang di jalan, saya masih melihat jejak hujan seperti baru saja "melangkah pergi" di depan saya. Tapi saya bilang bahwa di Tasiu hujan benar-benar telah pergi sebelum saya berangkat.

Saya kemudian melanjutkan "misi" menyiapkan hidangan malam itu.  Tidak buang-buang waktu, saya langsung ke kandang ayam. Ayam-ayam di kandang juga sperti sudah mengetahui kode dari pintu belakang yang terbuka. Tak kenal malam, sore atau pagi, ayam-ayam akan turun dan berkumpul begitu pintu terbuka.

Lampu yang memang selalu menyala kalau malam membantu ayam-ayam untuk makan dan mebantu saya untuk memgecek mereka satu-persatu. Dari kegiatan makan malam itu, saya mengetahui ada dua ekor - masing-masing betina dan jantan - yang tidak hadir.

Ah, tidak mungkin mereka "silariang" malam itu. Satu kemungkinan - yang paling mungkin - adalah bahwa mereka pindah menginap di pohon, namun juga sesuatu yang mustahil sebab malam itu hujan. Justeru kalau hujan, ayam tetangga yang memang senangnya bermalam di pohon, kadang datang di kandang ayam saya untuk numpang menginap.

Meski perhitungan saya tidak mungkin ada di phon, tapi tetap saja saya periksa beberapa pohon di sekitar rumah. Hasilnya nihil. Malam itu saya yakin dua ayam itu mendapatkan masalah. Ya malam itu, sebab sore hari itu, saya masih melihat yang betina berusaha meloloskan diri dari kejaran salah satu pejantan yang baru belajar curi-curi kesempatan dari si pejantan dominan yang sedang berkuasa.

Dia meloskan diri dan terselamatkan dengan datangnya si penguasa karena memang belum siap sejak beberapa hari berlalu gagal menetaskan 12 butir telur-telurnya yang busuk akibat salah satu betina yang lain "tak tahu adab" terus-menerus berusaha mendapatkan tempat untuk bertelur di tempatnya.

***

Pagi-pagi sekali saya sudah di halaman belakang untuk kembali memberi makan sekaligus mengecek siapa yang tidak hadir. Ternyata dua yang saya cari-cari malam itu tidak menampakkam diri. Saya lalu berkeliling rumah sampai ke samping rumah tetangga yang terdekat. Tapi tetap tidak ada.

Tetangga yang melihat saya kemudian bertanya dan mengaku sore hari sebelumnya masih melihat ayam itu di sekitar sumurnya. Tetangga saya memang sangat mengenal salah satu dari ayam itu karena selain punya ciri khas, juga hampir tidak pernah ayam itu jauh-jauh dari sekitar sumur miliknya. Beruntung tetangga saya baik dan mungkin belum tahu ada undang-undang baru 😀

"Tidak hilang ji itu, saya melihatnya kemarim sore," katanya.

Tapi saya tetap sangat yakin ayam itu hilang. Pengalaman saya di tempat kami, kemungkinannya kalau ada ayam menghilang adalah mati tertabrak kendaraan.

Tapi itu kecil kemungkinan, sebab tidak biasanya dua ekor ayam akan mengalaminya bersamaan. Selain itu, anak-anak yang setiap hari menjadikan jalan sebagai tempat bermain akan melapor kepada saya bila melihat ada ayam yang mati di jalan.

Sore hari itu, bersama para tetangga, saya juga main volley di bekas kebun yang kami jadikan lapangan. Dan letaknya persis di seberang jalan dari halaman rumah. Dan sore itu tidak ada kejadian apa-apa yang mengundang perhatian warga di sepanjang jalan itu.

Jadi kesimpulan saya, dua ayam itu hilang diambil maling, antara waktu lepas magrib malam itu dengan saya pulang ke rumah jelang pukul 22.00. Meski ini baru kali pertama sejak kami tinggal di tempat ini, tapi saya yakin pada kemungkinan itu.

Lalu atas usul istri, saya putuskan pagi itu saya ke pasar untuk melihat-lihat ayam yang memang biasanya ramai dijajakan di pintu masuk pasar Tasiu.

Sampai di pasar, begitu saya memarkir sepeda motor di sisi kiri pintu masuk, mata saya langsung tertuju ke seekor ayam jantan di tangan salah seorang pedagang ayam. Pedagang itu berdiri di samping sepeda motornya dengan muatan beberapa ekor ayam dalam sangkar khusus yang khas "pagandeng" ayam.😲

Bersambung....



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ayam Ini Kuberi Nama Preman Pasar (1)"