Aksi Pakaian Dalam Dan Keberanian Mengungkap Cinta

Oleh: Muhammad Gufran Padjalai

AKSI unjuk rasa dengan membawa simbol pakaian dalam wanita di depan kantor Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat di Mamuju bebearapa hari lalu menuai sorotoan. Tentu saja kemudian ada pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing.
Ilustrasi (net) 

Tulisan ini tidak bermaksud ikut berdebat mengenai penggunaan pakaian dalam wanita apakah melecehkan atau tidak. Saya melalui tulisan ini hanya ingin melihat latarbelakang pemahaman tentang wanita dan laki-laki terutama kaitannya dengan sikap dan tindakan dalam kultur masyarakat kita Sulawesi Barat khususnya, yang kemungkinan juga menjadi latarbelakang munculnya ide penggunaan benda-benda tertentu yang identik dengan wanita atau laki-laki sebagai simbol untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu.

Pakaian dalam dimunculkan sebagai simbol dalam aksi unjuk rasa tersebut, menurut hemat saya, tidak lepas dari kultur masyarakat kita yang mengenal istilah jantan dan betina, dalam menyikapi suatu permasalahan. Jantan mewakili kekuatan fisik dan keberanian atau tepatnya kekerasan dalam bersikap, sedangkan betina mewakili kelemahan dan kelembutan.

Wanita yang lemah dan lembut dan kadang-kadang lebih cepat menyikapi suatu masalah dengan air mata, dalam kultur masyarakat kita, lebih bisa dimaklumi daripada jika sifat itu ada pada diri laki-laki. Sehingga jantan dalam konteks sikap dan atau tindakan, tidak selalu harus bermakna laki-laki dan juga tidak selalu harus objeknya laki-laki. Bisa jadi perempuan bersikap atau memang memiliki kekuatan fisik yang lebih jantan daripada laki-laki.

Jantan atau betina dalam pengertian yang disebut di atas, sudah bukan merujuk pada makna sebenarnya yang berarti jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Kata jantan dan betina, dalam hal ini, sudah merupakan sebuah istilah yang maknanya lebih kepada sikap dan atau tindakan.

Jantan atau betina dalam konteks sikap dan atau tindakan ini lebih kepada soal kekuatan fisik, keberanian dan ketegasan untuk bertanggungjawab: pada diri sendiri, pada orang lain misalnya pada anggota keluarga, pada posisi, atau apada setiap ucapan, sikap dan atau tindakan yang dilakaukan oleh seseorang. Dan sikap-sikap itu dalam kultur masyarakat kita memang lebih banyak dituntut agar dimiliki oleh seorang laki-laki untuk modal memimpin keluarga sebagai kepala rumahtangga.

Karena sudah menjadi istilah yang bukan lagi mengandung makna sebenarnya, maka istilah jantan ini kemudian melahirkan istilah lain sebagai kebalikan dari sikap jantan yang tidak hanya mewakili sikap wanita yang lemah dan lembut saja, tetapi sudah berkonotasi negatif jika sikap-sikap itu ada pada diri seorang laki-laki.

Dalam kehidupan sehari-hari sangat sering kita bertemu dengan penyebutan-penyebutan beberapa istilah sebagai kebalikan dari istilah jantan. Misalnya seorang yang telah mengatakan akan melakukan sesuatu apapun resikonya, maka dia akan disebut bencong (tidak jantan) ketika kemudian orang tersebut mundur atau mungkin lari atau menangis pada saat dihadapkan pada situasi sulit dan berat atau membutuhkan kekuatan fisik dan keberanian.

Kata menangis di atas perlu ditekankan sebab umum kita pahami dalam kultur masyarakat kita, bahwa perempuan identik dengan air mata pada saat menghadap suatu persoalan. Padahal nyatanya laki-laki juga bukan tidak pernah menangis ketika menghadap masalah. Mungkin banyak juga laki-laki yang menangis saat tersakiti atau mendapatkan masalah, seperti saya misalnya he.he..he, namun tangisnya tidak ditampakkan. Ini lagi-lagi karena kultur masyarakat kita yang seolah tidak menerima laki-laki dengan sikap-sikap yang umum dimiliki perempuan. Mau menangis, malu nanti disebut seperti perempuan. Apakah perempuan jelek? Tidak! Tapi laki-laki menangis konotasinya jelek.

Contoh lebih khusus lagi yang berkaitan langsung dengan jenis kelamin, dan ini saya anggap merupakan awal dari munculnya dikotomi istilah "jantan" dan "betina" atau "laki-laki" dan "perempuan" dalam hubungannya dengan keberanian bersikap dan bertindak adalah dalam soal menyatakan cinta.

Seorang laki-laki dalam kultur masyarakat kita, dituntut untuk berani "nembak" cewek yang disukai, apa pun caranya. Karena katanya, tidak mungkin cewek yang duluan nembak. Jika seorang laki-laki tidak berani nembak atau mengatakan cinta apalagi kalau misalnya si cewek sudah ada sinyal, maka disebutlah si laki-laki itu bencong atau banci.

Padahal bencong sendiri belum tentu seperti itu kalau suka sama seseorang. Bisa jadi lebih berani. Tetapi ini lagi-lagi berangkat dari kultur masyarakat kita, dimana bukan merupakan suatu kebiasaan tapi justru merupakan sebuah pantangan bagi perempuan untuk lebih dahulu menyatakan isi hatinya atau rasa cintanya kepada laki-laki.

Sehingga (sekali lagi) ketika seorang laki-laki tidak berani menyatakatan cintanya kepada perempuan yang disukainya, maka laki-laki itu oleh teman-temannya akan diberi label bencong. Kenapa bencong? Karena dia laki-laki tetapi sikapnya seperti perempuan. Laki-laki yang bersikap atau bergaya seperti perempuan disebut bencong.

Apakah itu penghinaan kepada perempuan? Tentu tidak! Karena justru sikap atau prinsip tidak akan nembak duluan yang mungkin sampai saat ini masih dipegang kuat oleh perempuan, dalam kultur masyarakat kita, dipahami sebagai bentuk kemuliaan dan ketinggian akhlak seorang perempuan.

Mengapa dianggap sebuah kemuliaan?  Sebab disaat yang sama, ada istilah lain yang masih dalam kultur masyarakat kita juga, yaitu istilah "perempuan murahan" yang konotasinya negatif.

Istilah ini salah satunya yang saya pahami, diberikan kepada perempuan ketika perempuan tersebut cenderung lebih aktif atau mungkin lebih dahulu menunjukkan rasa sukanya pada laki-laki. Tapi itu di kultur atau dalam budaya masyarakat kita. Sebab dalam budaya masyarakat lain bisa jadi sebaliknya. Wallahu a'lam.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aksi Pakaian Dalam Dan Keberanian Mengungkap Cinta"