Pulanglah




ANEH, waktu muda kita berkata, " Hidup ini singkat " untuk membenarkan petualangan-petualangan kita secara geografis maupun secara emosional. Ketika sudah tua, kita menggunakan ucapan yang sama untuk membenarkan keinginan kita tinggal d irumah bersama orang-orang yang kita cintai.
Ketika muda, rasanya penuh semangat, tak pernah merasa kesepian dan menganggap hubungan berjalan normal. Bahkan dengan bangga membuat metafora yang bagus, " Kita menjelajahi samudera kehidupan dengan perahu yang berbeda, yang akan membuang jangkar di pelabuhan yang sama bila ada kesempatan.

Namun ketika masa itu telah datang, yaitu masa katika kita merasa waktu yang ada akan segera berlalu bersama orang terdekat yang kita cintai, saat itu yang kita inginkan adalah menambatkan sampan-sampan pada satu pelampung dan membiarkannya diayun-ayun ombak setiap malam.

Sekali-sekali pulanglah saudara-saudaraku ke kampung halaman, kepada orang tua dan sanak saudara kita. Akan ada waktu ketika kita ingin menikmati kembali kebersamaan dengan orang-orang terdekat, namun saat itu kebanyakan yang kita dapatkan hanya tinggal kelebatan bayangan masa kecil di saat berada di antara mereka dalam lingkungan keluarga di kampung tercinta.

Dan akan ada waktu ketika pulang ke rumah, kita tak lagi mendapatkan pasangan yang mungkin terlalu sering kita abaikan bersama buah hati yang selalu menuggu kehadiran kita. Saat itu yang kita dapatkan hanya suara-suara yang entah di mana namun jelas terdengar dan membekas.

Seketika itu, kita akan menemukan diri terlempar jauh dalam kesepian yang mengalirkan bening-bening yang tak akan mampu membawa kembali waktu yang telah berlalu.

Pulanglah..

Subscribe to receive free email updates: