Pudarnya Semangat Gotong Royong

PAGI jelang siang hari Jum'at, saya putuskan tidak Shalat Jum'at di masjid dekat tempat tinggal saya. Karena itu, setelah mandi dan berpakaian bersih, kurang beberapa menit jam sebelas siang, saya meninggalkan rumah.

Seperti biasa jika tidak Shalat Jum'at di masjid dekat rumah, saya akan berkendara menggunakan sepeda motor menyusuri jalan menuju suatu tempat sambil memperhatikan masjid-masjid di kiri-kanan jalan, kira-kira mana masjid yang jamahnya sudah ramai. Jika telah ramai, itu tanda Shalat Jum'at akan segera dimulai. Dan saya akan singgah di salah satu masjid mana pun untuk ikut shalat. Jika tidak, bisa-bisa saya akan terlambat.

Setelah roda sepeda motor mulai berputar menyusuri jalan keluar dari belakang gunung di Lingkungan Padang Baka pinggiran Kota Mamuju, saya putuskan menyusuri jalan poros ke arah utara. Jarak yang saya tempuh cukup jauh, dan beberapa saat setelah azan berkumandang, saya tiba di halaman sebuah masjid yang relatif cukup besar di pusat kota kecamatan.

Usai Shalat Jum'at dan berdo'a dipimpin Pak Imam, saya langsung berdiri dan berniat meninggalkan masjid, namun Pak Imam tampil berdiri dan berbicara di hadapan jama'ah. Saya akhirnya batal melangkah dan tetap berdiri sambil mendengar kata-kata Pak Imam.

Kepada jama'ah, rupanya Pak Imam menyampaikan sebuah permohonan bantuan dari salah seorang warga agar jama'ah Jum'at berkenan memberikan bantuan tenaga untuk memindahkan sebuah rumah yang berada tak jauh dari masjid itu.

Setelah mengetahui isi pengumuman, saya langsung meninggalkan ruangan masjid dan bermaksud menuju ke arah tempat yang disebutkan Pak Imam. Namun ada yang janggal begitu saya berada di halaman masjid. Sejumlah besar jama'ah terlihat menuju arah yang berbeda. Tapi saya merasa tidak salah dengar. Karena itu saya tetap lanjut menuju tempat yang dimaksud.

Beberapa saat kemudian saya melihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan. Melihat itu, saya merasa yakin, bahwa pasti tak jauh dari orang-rang yang berdiri itu, merupakan lokasi rumah yang hendak dipindahkan. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, saya melihat rumah kayu yang tidak terlalu besar di sisi jalan, telah dibuat sedemikian rupa untuk memudahkan proses pemindahan.

Saya lalu bergabung dengan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Tapi lagi-lagi saya lihat kejanggalan. Hanya ada beberapa laki-laki yang ada di tempat itu. Dalam perkiraan saya, jamaah masjid yang datang bersama saya, jelas tidak akan mampu memindahkan rumah itu.

Namun beberapa saat kemudian, jumlah kami bertambah beberapa orang. Dibawah komando salah seorang yang bersuara lantang, kami mencoba kekuatan. Berkali-kali. Tapi sedikitpun rumah itu tidak bergeser. Saya bahkan sempat mengira tiang rumah itu tertanam di atas landasan.

Salah seorang yang saya duga merupakan pemilik rumah tampak mualai gusar. Beberapa orang di antara kami juga mulai bersuara memberi pendapat. Lalu dicoba dan dicoba lagi. Tapi hanya bergerak sedikit. Dan tiang rumah yang berdiri di atas tembok pondasi itu mulai kehilangan keseimbangan.

Pemilik rumah makin khawatir. Ia berteriak minta upaya mengangkat dihentikan sementara sambil menunggu bantuan dari jama'ah masjid lain yang telah dihubungi dan katanya masih dalam perjalanan.

Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang yang ditunggu datang satu persatu, akhirnya tiang rumah bergeser beberapa senti. Tapi masalah lain datang, salah satu tiang rumah yang berada di sudut, menindih tembok penutup septic tank dan Bruuk..! Tembok (maaf) penutup bak penampungan kotoran itu pecah.

Orang-orang saling berpandangan. Lalu spontan mereka menarik kerah baju mereka ke wajah masing-masing. Suasana di bawah panas matahari membuat beberapa orang yang berada tepat di dekat tiang yang meindih tembok pecah itu bersuara seperti hendak muntah. Tapi aba-aba untuk kembali mengngkat tiang rumah terus dipekikkan. Saya yang berada di sekitar tiang tengah pindah ke dekat tiang di sudut lain.

Orang-orang yang datang belakangan terus bertambah. Mereka langsung pasang bahu mengambil posisi untuk ikut membantu. Akhirnya tiang rumah bergeser sedikit demi sedikit. Saya sampai tak bisa menghitung berapakali aba-aba diteriakkan. Dan akirnya tiang rumah sampai juga ke posisi yang dikehedaki.

Sebenarnya tidak terlalu pas. Dan itu berulang kali diteriakkan seorang perempuan yang dari awal saya lihat sangat antusias ikut memberi aba-aba. Namun sampai di situlah upaya yang bisa kami lakukan. Beberapa orang yang ahirnya angkat bicara mengatakan, biar tukang yang sementara mengerjakan rumah itu saja yang nanti membuat tiangnya lebih lurus. Akhirnya satu-persatu orang-orang meninggalkan posisinya dari kolong rumah.

Melihat keadaan itu saya bermaksud meningglkan tempat, tapi seorang ibu menahan tangan saya dan mengarahkan saya ke sebuah meja di bawah tenda yang terletak agak jauh dari bangunan rumah.
Di bawah tenda, kami disuguhi bubur kacang hijau. Beberapa orang menikmati bubur itu sambil terus berbicara. Pembicaraan mereka masih seputar sulitnya proses memindahkan rumah itu.

Salah seorang yang sedang mengunyah bubur mengatakan, seharusnya seluruh dinding dan lantai papan rumah itu dibuka terlebih dahulu supaya lebih ringan. Sehingga katanya, sekalipun jumlah orang yang datang kurang, rumah itu tetap akan mudah dipindahkan.

Seorang yang lain mengatakan, jumlah jama'ah yang datang dari masjid memang terlalu sedikit. Kepada Pak Imam yang turut hadir dan sementara ikut menikmati bubur di bawah tenda, oarang itu mengatakan, pengumuman di masjid tadi seharusnya dilakukan dua kali.

Katanya ada jama'ah yang tidak mengetahui karena mereka langsung meninggalkan masjid begitu Shalat Jum'at selesai. Katanya tidak semua jama'ah mengikuti do'a bersama. Ia juga mengatakan, seharusnya pengumuman juga disampaikan sebelum Shalat Jum'at, sehingga semua mendengar.

Lalu salah seorang di antara yang ikut bicara itu menyampaiakan pernyataan yang agak berbeda. Ia mengatakan, jama'ah yang lain tampaknya memang sengaja tidak mau ikut membantu. Katanya saat ini telah lebih banyak rumah batu daripada rumah panggung dari kayu. Rumah-rumah kayu seperti yang baru selesai kami pindahkan itu, katanya sudah sangat kurang. Karena itu kata dia, orang-orang yang lebih banyak merupakan pemilik rumah batu, mungkin saat ini merasa tak harus ikut membantu. Sebab rumah batu tidak akan pernah bisa diangkat.

Mendengar pernyataan orang-orang itu, saya memilih diam saja. Saya merasa tak perlu berbicara untuk memberi penilaian. Sebab saya tahu diri, saat ini saya tinggal di rumah kontrakan.

Subscribe to receive free email updates: